kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Wijaya Karya (WIKA) bidik proyek bandara di Taiwan senilai US$ 700 juta


Kamis, 17 Oktober 2019 / 18:33 WIB

Wijaya Karya (WIKA) bidik proyek bandara di Taiwan senilai US$ 700 juta
ILUSTRASI. Bandara Maratua yang baru selesai dibangun, di Pulau Maratua, Berau, Kalimantan Timur, Jumat (11/9/2015). Bandara ini diharapkan mempermudah akses dan menjadi salah satu pembuka jalan bagi wisatawan yang akan menuju Maratua.

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) di tahun ini cukup gencar mengincar proyek-proyek di luar negeri. Sebelumnya, di tahun ini WIKA memperoleh kontrak seperti proyek perumahan rakyat di Aljazair senilai Rp 500 miliar.

Bulan lalu, WIKA juga memperoleh tambahan pekerjaan untuk pembangunan terminal kargo di Zanzibar senilai US$ 150 juta atau setara sekitar Rp 2,1 triliun.

Baca Juga: Duh, Realisasi Kontrak Baru Emiten Konstruksi Masih Jauh dari Target

Sekretaris Perusahaan WIKA Mahendra Vijaya mengatakan, perolehan kontrak di Zanzibar di luar dari kolaborasi Indonesia – Africa Infrastructure Dialogue yang sebesar US$ 356 juta atau sekitar Rp 5 triliun.

“Saat ini, perseroan juga menyasar proyek bandara di Taiwan,” katanya saat dihubungi Kontan.co.id pada Kamis (17/10).

Menurut Mahendra, nilai proyek bandara di Taiwan sebesar US$ 700 juta. Jika dikonversikan ke rupiah nilai itu setara Rp 9,87 triliun. Apabila berhasil diperoleh, maka proyek itu bisa mendongkrak perolehan kontrak WIKA yang baru mencapai 41,69% dari target tahun ini yang sebesar Rp 61,74 triliun atau setara Rp 25,7 triliun.

Baca Juga: Baru capai 41,63% target kontrak baru, Wijaya Karya masih bidik proyek Rp 35 triliun

Mahendra mengatakan, pihaknya optimistis di sisa tiga bulan terakhir pihaknya bakal mampu mengejar realisasi kontrak baru. Adapun proyek-proyek dari swasta maupun pemerintah diproyeksikan bakal marak di sisa tiga bulan di tahun 2019.

Menurutnya proyek itu antara lain seperti jalan tol, pembangkit listrik, proyek industrial plant, dan juga proyek luar negeri sendiri. Terjadinya perlambatan di tahun 2019 diperkirakan karena adanya kontestasi politik yang menyebabkan lelang proyek lebih lesu dibanding biasanya.


Reporter: Harry Muthahhari
Editor: Noverius Laoli
Video Pilihan


Close [X]
×