INDUSTRI
Berita
Impor sapi bakalan Australia disetop, harga sapi lokal terdongkrak

IMPOR SAPI AUSTRALIA

Impor sapi bakalan Australia disetop, harga sapi lokal terdongkrak


Telah dibaca sebanyak 1840 kali
Impor sapi bakalan Australia disetop, harga sapi lokal terdongkrak

JAKARTA. Penghentian ekspor sapi bakalan oleh Australia diharapkan bisa menggenjot harga sapi di tingkat peternak lokal. Pasalnya, selama ini harga sapi lokal lebih rendah ketimbang harga sapi bakalan impor.

Menteri Pertanian Suswono mengakui, selama ini harga sapi bakalan lokal di beberapa daerah seperti Jawa Tengah dan Jawa Timur memang lebih murah ketimbang sapi bakalan impor. Menurutnya, harga sapi bakalan lokal masih di bawah Rp 20.000 per kg bobot hidup. Bahkan, di pelosok NTB harga sapi bakalan lokal hanya Rp 16.000 per kg bobot hidup.

Ia menambahkan, ada dua kemungkinan penyebab rendahnya harga sapi bakalan lokal ini. Pertama, karena ada kelebihan pasokan sapi di dalam negeri. Kedua, "Ada permainan harga oleh tengkulak atau blantik. Ini yang akan kita telusuri," ujar Suswono Selasa (14/6).

Rendahnya harga sapi bakalan lokal ini juga dibenarkan oleh peternak sapi. Baru-baru ini, Ketua Forum Peternak Budidaya Penggemukan Sapi Jawa Barat Yudi Guntara Noor mengatakan, harga sapi bakalan lokal di Jawa Barat hanya sekitar Rp 22.000 per kg bobot hidup. Padahal, tahun lalu harga sapi bakalan lokal masih Rp 24.000 per kg bobot hidup.

Suswono berharap, harga jatuh di tingkat peternak karena banyaknya populasi sapi. "Sehingga harga sapi bisa terdongkrak," ujar Suswono. Ia optimistis, pemanfaatan sapi lokal untuk mengisi pasokan selama penghentian sementara ekspor sapi bakalan oleh Australia bisa membuat harga sapi lokal di tingkat peternak bisa membaik.

Ia bilang, saat ini Kementan sudah mendorong Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI) untuk menggandeng peternak sapi langsung dalam pengadaan pasokan daging sapi. Suswono bilang, kerjasama ini sudah dilakukan di Jawa Timur dan akan dikembangkan di Jawa Tengah dan DIY. Hasilnya, "Harga sapi lokal di Jatim sudah naik menjadi Rp 24.000 per kg bobot hidup," jelasnya.

Tunggu kesepakatan standar RPH

Sementara itu, saat ini Indonesia masih menunggu standardisasi mengenai Rumah Potong Hewan (RPH) yang dilakukan oleh Australia. Suswono bilang, akan ada diskusi antara Australia dan Indonesia mengenai penyusunan standar RPH terkait dengan animal welfare.

Pasalnya, selama ini Australia juga belum memiliki standardisasi mengenai animal welfare yang disepakati secara internasional oleh badan kesehatan hewan internasional (Office Internationale des Epizooties). "setelah ada standar yang sudah disepakati bersama, baru nanti dilakukan peninjauan ke lapangan apakah ada penyimpangan di RPH atau tidak," ungkapnya.

Dalam menyusun standardisasi ini, Indonesia dan Australia akan menerjunkan tim ahlinya secara bersama-sama. Setelah standardisasi disusun dan dilakukan verifikasi, dan ada RPH yang memenuhi syarat, maka suspensi bisa dibuka. "Tapi ini tergantung proses verifikasi," jelasnya.

Meski begitu, Suswono menekankan, secara internal Indonesia juga akan memperketat pengawasan RPH. Suspensi ekspor sapi bakalan dari Australia ini, kata Suswono juga menjadi masukan untuk bisa melakukan pengawasan lebih intensif.



Editor: Rizki Caturini
Telah dibaca sebanyak 1840 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Para pemodal yang siap bermain di Tanjung Lesung

    +

    Enam investor sudah menyatakan komitmen untuk menanamkan modalnya membangun KEK Tanjung Lesung

    Baca lebih detail..

  • Setelah mati suri selama 20 tahun

    +

    Masyarakat sekitar kawasan wisata Tanjung Lesung belum bisa menikmati berkah dari hadirnya kawasan wisata internasional tersebut.

    Baca lebih detail..

    A PHP Error was encountered

    Severity: Notice

    Message: Undefined variable: berita

    Filename: all_kanal/list_berita.php

    Line Number: 2

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: all_kanal/list_berita.php

    Line Number: 2