: WIB    —   
indikator  I  

Kemenhub akan merelokasi Bandara Rahadi Osman

Kemenhub akan merelokasi Bandara Rahadi Osman

JAKARTA. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai Bandara Rahadi Osman yang terletak di Kabupaten Ketapang Provinsi Kalimantan Bara sudah tidak ideal dalam hal keselamatan penerbangannya. Bandara terletak di tengah pemukiman padat dan lahannya terbatas sehingga sulit dikembangkan. Padahal tingkat pertumbuhan penumpangnya sangat tinggi yaitu 15% per tahun.

Dengan kondisi tersebut, Kemenhub tengah mempertimbangkan untuk merelokasi Bandara Rahadi Osman. Pasalnya, biaya untuk mengembangkan bandara ini di tempat yang lama akan sama dengan membangun bandara baru di tempat lain yang bisa dikembangkan lebih lanjut.

Hal itu disampaikan Dirjen Perhubungan Udara Agus Santoso saat melakukan kunjungan kerja di Bandara Rahadi Osman Ketapang mulai Jumat (18/3).

Selama dua hari, Agus Santoso meninjau Bandara Rahadi Osman serta beberapa tempat yang disediakan oleh Pemerintah Daerah untuk relokasi bandara. Di antaranya di desa Tempurukan Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang yang berjarak sekitar 26 km dari Bandara Rahadi Osman dan Desa Riam Berasap Kecamatan Sukadana Kabupaten Kayong Utara yang berjarak sekitar 65 km.

"Keselamatan penerbangan itu nomor satu. Setiap bandara harus memenuhi persyaratan keselamatan baik nasional maupun internasional," ujar Agus dalam keterangan resminya, Minggu (19/3).

Menurut Agus, penurunan tingkat keselamatan juga akan mempengaruhi penurunan tingkat keamanan dan pelayanan serta bisnis transportasi udara di bandara ini.

Sebelum bandara baru dibangun, Agus Santoso berpesan keselamatan penerbangan di Bandara Rahadi Osman saat ini tetap dipertahankan. Misalnya, obstacle di dua ujung runway agar dihilangkan sehingga runway bisa dipakai secara maksimal sepanjang 1.650 meter. Dengan demikian pesawat jet bisa beroperasi di bandara ini.

Obstacle itu berada di ujung runway 17 dan 35, yakni berupa bangunan perumahan penduduk dan pohon tinggi sehingga panjang runway yang 1.650 meter hanya dapat dipergunakan sepanjang 1.400 meter.

Lalu, anjang taxiway hanya 68 meter sehingga kalau ada pesawat yang parkir menghadap gedung terminal, ekor pesawat sudah menjadi obstacle bagi pergerakan pesawat lain.

Pagar perimeter bandara juga harus diperbaiki. Dan masyarakat yang bermain layang-layang di seputar area bandara harus dilarang karena hal tersebut sangat membahayakan operasional penerbangan.

"Menurut UU no 1 tahun 2019 tentang penerbangan, yang bertanggung jawab terhadap bandara bukan hanya pengelola tapi juga masyarakat sekitar," ujarnya.

Sedangkan terkait pemilihan area untuk bandara baru, Agus Santoso berpesan agar dicari tanah yang paling bagus dan ideal dari sisi navigasi dan bisnis penerbangan. Pihaknya akan mengkaji lebih lanjut desain-desain yang sudah dibuat para konsultan selama ini

Menurut Kepala Unit Penyelenggara Bandar Udara Rahadi Osman, Suhardoyo, saat ini ada 50 penerbangan per minggu di Bandara ini yakni 8 kali sehari pada hari Senin, Selasa, Kamis dan Sabtu. Selain itu, ada pula 6 kali penerbangan sehari pada hari Rabu, Jumat dan Minggu. Maskapai yang beroperasi di bandara ini adalah Garuda, Kalstar, Wings, Transnusa dan penerbangan perintis oleh Dimonim Air.

Saat ini jumlah penumpang yang datang setiap harinya sekitar 450 orang. Sedangkan kapasitas ruang tunggu terminal hanya 170 penumpang. Selain keterbatasan kapasitas, kendala lain yang dihadapi bandara ini adalah adanya masyarakat yang melintas landas pacu saat ada operasional penerbangan karena tidak mempunyai akses jalan lain.


Reporter Dina Mirayanti Hutauruk
Editor Barratut Taqiyyah

INFRASTRUKTUR DAERAH

Feedback   ↑ x
Close [X]