INDUSTRI
Berita
Laba Berhambur dari Susu Kedelai Bubuk

Laba Berhambur dari Susu Kedelai Bubuk


Telah dibaca sebanyak 1994 kali

JAKARTA. Tidak semua bayi  atau anak-anak cocok dengan susu sapi. Anak-anak yang alergi pada susu sapi biasanya akan mengalami diare atau mencret. Walhasil, banyak dokter yang menganjurkan orang tua agar memberi susu kedelai pada anaknya, yang tidak bisa mencerna laktosa di dalam susu sapi.

Susu kedelai tidak mengandung laktosa. Selain itu juga lebih murah ketimbang susu sapi. Tapi, kandungan gizi susu kedelai tidak kalah dari susu sapi, baik kandungan protein maupun asam amino. Bahkan, susu kedelai tidak mengandung kolesterol.

Namun, susu kedelai memiliki kelemahan, yaitu tidak tahan lama. Biasanya, jika tidak di campur bahan pengawet, susu kedelai hanya bisa tahan selama sehari. Padahal, peminat susu kedelai semakin banyak.

Melihat kondisi tersebut, CV Dodo Mis yang berlokasi di Kabupaten Bandung, Jawa Barat,  mencari cara agar susu kedelai lebih awet. Caranya, dengan mengolah kedelai menjadi susu bubuk yang praktis dan bisa tahan lebih lama. "Kalau semakin awet, maka tidak banyak sari kedelai yang terbuang karena basi," ujar Irvan, salah seorang staf penjualan CV Dodo Mis. Mereka memberi nama susu kedelai bubuk itu, Alamina.

Meskipun sudah berubah bentuk dari cair menjadi bubuk, Irvan menjamin produk susu instan itu tidak berkurang sedikit pun kandungan gizinya. Susu Alamina memiliki kandungan gizi beragam, dari mulai vitamin, kalsium, zat besi, seng, fosfor, karoten, dan hingga bebas kolesterol.

Yudi Firmansyah, pemilik CV Dodo Mis mengatakan, kandungan gizi yang terdapat dalam susu kedelai cair justru banyak yang hilang. Karena, pada umumnya para produsen susu kedelai cair itu sudah terlalu banyak mencampurkan air ke dalam produk buatannya.

Nah, untuk menjamin kelancaran produksi susu kedelai bubuk, Yudi mengaku perusahaannya mendapat pasokan kedelai dari para petani yang menjadi mitranya di Sukabumi, Jawa Barat. Dalam satu hari setidaknya, perusahaannya mengolah 250 sampai 300 kilogram kedelai menjadi susu bubuk yang dikemas dalam kemasan karton isi 150 gram.

Irvan menambahkan, dalam satu bulan, produksi susu kedelai bubuk dari pabriknya mencapai kurang lebih 2 ton. Susu itu terdiri dari tiga pilihan rasa, yaitu natural, vanilla, serta coklat.

Yudi mengaku, perusahaannya mematok harga susu ke pelanggan Rp 15.000 per kotak. "Kalau harga ke agen bisa lebih murah lagi tergantung jumlah pengambilannya seberapa banyak," ujar Yudi.

Untuk wilayah Jakarta saja, dalam sebulan susu bubuk Alamina bisa terjual sebanyak 3.000 kotak. Itu belum termasuk penjualan oleh para agen pemasaran di beberapa daerah di Indonesia. Seperti Sulawesi, Tangerang, Kalimantan, Palembang, Jambi, Mataram, dan beberapa daerah lain.

Nah, jika menghitung penjualan di Jakarta saja, setidaknya CV Dodo Mis bisa mendapatkan pendapatan Rp 45 juta. Sayangnya, Yudi enggan mengungkapkan berapa marjin keuntungan yang diterima perusahaan setiap bulan.

Dia melihat prospek susu kedelai bubuk sangat menjanjikan. Pasalnya, banyak sekali manfaat susu kedelai bubuk bagi konsumen yang rutin meminumnya. Antara lain, melancarkan metabolisme, memperkuat tulang dan mencegah osteoporosis, menurunkan darah tinggi dan kolesterol, menyeimbangkan gula darah, menjaga kulit tetap halus, dan beragam manfaat lainnya.

CV Dodo Mis
Susu Kedelai Alamina
Jalan Rancamalang No 32
Kecamatan Marga Asih,
Kabupaten Bandung
Jawa Barat
Telp. 022-70384528
Hp. 085780442861
 

Editor: Teskontan
Telah dibaca sebanyak 1994 kali



Syarat & Ketentuan Komentar :
  1. Tidak memuat isi bohong, fitnah, sadis dan cabul.
  2. Tidak memuat isi yang mengandung prasangka dan kebencian terkait dengan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), serta menganjurkan tindakan kekerasan.
  3. Tidak memuat isi diskriminatif atas dasar perbedaan jenis kelamin dan bahasa, serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa, atau cacat jasmani.
  4. KONTAN memiliki kewenangan mutlak untuk mengedit atau menghapus komentar yang bertentangan dengan ketentuan ini.

LIPSUS

LIPSUS Update

  • Simak sektor mana saja yang prospektif!

    +

    Sejak awal tahun hingga 22 September 2014, saham-saham sektor perbankan memberikan return terbesar.

    Baca lebih detail..

  • Meramal gerak IHSG setelah rekor

    +

    Analis berbeda pendapat soal prospek kinerja IHSG ke depannya.

    Baca lebih detail..