kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.291   159,23   1,96%
  • KOMPAS100 1.172   25,90   2,26%
  • LQ45 842   12,51   1,51%
  • ISSI 296   7,86   2,73%
  • IDX30 436   5,12   1,19%
  • IDXHIDIV20 520   1,62   0,31%
  • IDX80 131   2,69   2,10%
  • IDXV30 143   1,37   0,97%
  • IDXQ30 141   0,56   0,40%

IBC Targetkan Industri Daur Ulang Baterai EV Beroperasi 2029–2030, Cek Persiapannya


Rabu, 11 Februari 2026 / 10:32 WIB
IBC Targetkan Industri Daur Ulang Baterai EV Beroperasi 2029–2030, Cek Persiapannya
ILUSTRASI. Indonesia Battery Corporation (IBC) (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Shintia Rahma Islamiati | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) menargetkan pembangunan industri daur ulang baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) pada 2029–2030. Komitmen tersebut disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (2/2/2026).

Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif menegaskan, meskipun realisasi investasi pabrik daur ulang baterai baru akan dilakukan dalam beberapa tahun ke depan, fondasi tata kelola dan regulasi harus dipersiapkan sejak dini.

Menurut dia, IBC saat ini melakukan persiapan secara terintegrasi dengan menggandeng mitra strategis untuk memetakan potensi serta dukungan teknologi pengolahan baterai bekas berbasis nikel sebagai sumber bahan baku sekunder.

Baca Juga: Prospek Industri Hotel 2026 Tertekan, PHRI Wanti-Wanti Risiko Okupansi Turun

“Kami berkoordinasi dengan mitra strategis untuk memetakan potensi baterai bekas berbasis nikel serta kesiapan teknologi pengolahannya. Di saat yang sama, kami menyelaraskan rencana pengembangan dengan kebijakan nasional,” jelasnya kepada Kontan, Senin (9/2/2026).

IBC juga memperkuat perencanaan infrastruktur dan kapasitas internal guna memastikan pengelolaan material baterai dapat dilakukan secara aman dan berkelanjutan.

Dari sisi potensi, Aditya menilai baterai bekas berbasis nikel akan menjadi sumber bahan baku strategis di masa depan seiring meningkatnya adopsi kendaraan listrik di Indonesia.

“Volume baterai bekas berbasis nikel diproyeksikan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Ini menjadi peluang besar untuk mendukung ekonomi sirkular di bidang energi,” katanya.

Namun demikian, ia mengakui pengembangan industri daur ulang baterai EV tidak lepas dari sejumlah tantangan, mulai dari kepastian pasokan bahan baku, kebutuhan investasi yang besar, hingga pemenuhan standar keselamatan dan lingkungan.

“Selain itu, kesiapan infrastruktur logistik dan sumber daya manusia juga menjadi faktor penting,” ungkapnya.

Dari sisi regulasi, IBC berharap adanya dukungan kebijakan yang jelas dan konsisten untuk mendorong investasi di sektor ini.

Baca Juga: Kemenperin Ungkap Potensi dan Strategi Penguatan Ekosistem Industri Kapal Nasional

“Kami membutuhkan regulasi yang jelas dan mendukung, khususnya terkait mekanisme pengumpulan dan pengelolaan baterai bekas berbasis nikel, standar keselamatan, serta insentif bagi industri daur ulang,” tutur Aditya.

Ke depan, pengembangan industri daur ulang baterai EV diharapkan dapat memperkuat rantai pasok baterai nasional melalui penyediaan bahan baku sekunder yang berkelanjutan.

“Dengan adanya industri daur ulang, kita bisa memperkuat kemandirian industri baterai nasional sekaligus mendukung target transisi energi dan ekonomi sirkular,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan daur ulang baterai juga berpotensi menurunkan jejak karbon produk baterai Indonesia berdasarkan perhitungan Life Cycle Assessment (LCA).

“Sehingga lebih jauhnya dapat meningkatkan competitive advantage dari produk baterai Indonesia,” pungkasnya.

Selanjutnya: Indonesia Siap Kerahkan 8.000 Tentara ke Gaza, Jadi yang Pertama Kirim Pasukan

Menarik Dibaca: IHSG Berpeluang Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Rabu (11/2)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×