: WIB    —   
indikator  I  

Produksi batubara tidak sepanas laju harganya

Produksi batubara tidak sepanas laju harganya

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski harganya sedang membara, realisasi produksi batubara hingga kuartal III-2017 masih rendah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, produksi batubara sampai 31 Agustus 2017 ini lalu mencapai 62% atau sekitar 294,5 juta ton. Sementara target produksi sampai akhir tahun mencapai 477 juta ton.

Sebelumnya pemerintah merevisi produksi batubara tahun ini, dari 413 juta ton menjadi 477 juta ton. Artinya, pemerintah optimistis produksi bisa naik.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Bambang Gatot menjelaskan, banyak perusahaan Izin Usaha Pertambangan (IUP) masuk dalam tahapan produksi. Sehingga target produksi yang tadinya 413 juta ton direvisi.

Selain produksi masih rendah, target pemanfaatan batubara domestik atau domestic market obligation (DMO) juga masih jauh dari target yang sebesar 108 juta ton. Sampai dengan 31 Agustus ini masih 29% atau 30,8 juta ton. "Kami yakin masih bisa mencapai target. Tahun lalu juga tidak jauh berbeda antara realisasi dan target," terangnya, kepada KONTAN, Minggu (8/10). Sayang, Bambang enggan menyebutkan produksi pada September 2017 ini.

Menurut data Kementerian ESDM, sumbangan terbesar target berasal dari PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebanyak 58,18 juta ton. Kedua, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sebanyak 50 juta ton. Ketiga, PT Kideco Jaya Agung 32 juta ton. Keempat, PT Berau Coal sebanyak 33,5 juta ton. Kelima, PT Arutmin Indonesia sebanyak 25 juta ton. Dan, keenam, PT Bukit Asam Tbk sebanyak 23,2 juta ton.

Kepala Biro Komunikasi Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM Dadan Kusdiana mengatakan, idealnya produksi batubara mendekati 75% dari target. "Tapi, ini masih tiga bulan lagi," tegasnya ke KONTAN, Minggu (8/10).

Ia mengklaim, catatan penerimaan negara relatif baik. Jadi, yang sudah tercapai sekarang sudah termasuk baik. "Lebih baik dari tahun lalu," tandasnya.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia menilai, dengan sisa waktu tiga bulan agak sulit target produksi batubara nasional bisa terpenuhi. Rendahnya produksi di kuartal I dan awal kuartal II kemarin lantaran faktor cuaca. "Dalam beberapa waktu terakhir ini hambatan di lapangan juga muncul, seperti aksi pencurian batubara di tongkang," ungkap dia, ke KONTAN, Minggu (8/10).

Harga naik lagi

Pada Oktober ini, Kementerian ESDM mencatat Harga Batubara Acuan (HBA) naik lagi sebesar 2,13%. Dari September US$ 92,03 per ton menjadi US$ 93,99 per ton.

Dadan mengatakan indeks harga batubara dunia juga tengah mengalami kenaikan, sehingga HBA juga ikut meningkat. "Ada kenaikan harga empat indeks acuan penyusun HBA," katanya kepada KONTAN, Minggu (8/10).

Ketua Indonesian Mining Institute (IMI) Irwandy Arif menjelaskan, kenaikan HBA pada bulan ini terutama lantaran beberapa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di Asia yang sudah memasuki tahap commissioning. "Selain itu, juga karena pertanda bahwa energi terbarukan masih sangat lambat perkembangannya," ungkapnya.

Menurutnya, dalam berapa bulan ke depan, hingga selesai musim hujan, kemungkinan besar tidak ada perubahan signifikan. Adapun untuk jangka waktu satu sampai tiga tahun, Irwandy memperkirakan, harga batubara masih akan di rentang US$ 60 per ton-US$ 80 per ton.


Reporter Pratama Guitarra
Editor Rizki Caturini

BATUBARA

Feedback   ↑ x
Close [X]