: WIB    --   
indikator  I  

Wika Beton mengulik potensi proyek listrik

Wika Beton mengulik potensi proyek listrik

JAKARTA. Meski proyek sektor infrastruktur masih mendapatkan tempat utama, perlahan PT Wijaya Karya Beton Tbk alias Wika Beton ingin membesarkan kontribusi sektor energi. Anak perusahaan PT Wijaya Karya Tbk itu ingin porsi 25% dari total kontrak baru tahun ini berasal dari proyek sektor energi.

Hingga kuartal I-2017 kemarin, harapan Wika Beton tersebut belum terwujud. Dari total kontrak baru senilai Rp 1,5 triliun, pekerjaan dari sektor energi menyumbang porsi 15%-17%.

Namun Wika Beton tak berkecil hati. Perusahaan berkode saham WTON di Bursa Efek Indonesia itu masih yakin, targetnya bisa terpenuhi. Apalagi, geliat proyek setrum dalam program pemerintah 35.000 megawatt (MW) semakin santer.

Di samping itu Wika Beton mengklaim, bakal banyak proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) di tanah air yang membutuhkan jasa konstruksinya. "Terutama kami unggul di pengadaaan tiang pancang skala besar, 600 mm-800 mm," kata Puji Haryadi, Sekretaris Perusahaan PT Wijaya Karya Beton Tbk, kepada KONTAN, Rabu (19/4).

Ukuran tiang pancang yang besar tersebut sesuai dengan kebutuhan PLTU. Sebab, pembangunan pembangkit listrik tersebut selalu berada di pinggiran laut.

Kontrak pekerjaan PLTU yang Wika Beton dapatkan sejuah ini misalnya PLTU di Cilacap, Jawa Tengah dengan kapasitas 1x1.000 MW. Pekerjaan tersebut merupakan kelanjutan dari proyek sebelumnya, yakni PLTU Cilacap dengan kapasitas 1x600 MW. Total kontrak proyek pembangkit listrik Cilacap yang mereka genggam mencapai Rp 350 miliar.

Selain pembangkit listrik, proyek sektor energi lain yang Wika Beton jamah adalah proyek kilang minyak dan gas (migas) di Teluk Bintuni, Papua Barat. Nilai proyek yang mereka dapatkan sebesar Rp 70 miliar.

Sepanjang tahun ini, Wika Beton membidik total kontrak baru senilai Rp 5,6 triliun. Kalau target porsi sektor energi 25%, target porsi sektor infrastruktur 40%. Sisanya berasal dari sektor lain. "Kami optimistis target kontrak sekitar Rp 5,6 triliun bisa tercapai," kata Puji.

Mengintip laporan keuangan 2016, Wika Beton mencatatkan pendapatan usaha sebesar Rp 3,48 triliun. Pencapaian itu tumbuh 31,32% dibandingkan dengan pendapatan usaha tahun 2015 yakni Rp 2,65 triliun.

Bisnis beton menyumbang pendapatan terbesar, senilai Rp 3,33 triliun. Kontribusi pendapatan sisanya berasal dari bisnis jasa senilai Rp 132,72 miliar dan bisnis quarry senilai Rp 23,62 miliar.

Sementara dari sisi geografis, Jawa masih mendatangkan pendapatan terbesar bagi Wika Beton yakni Rp 1,95 triliun. Barulah sisa pendapatan Rp 1,54 triliun dari pekerjaan di Luar Jawa.

Tak cuma top line yang tumbuh, bottom line Wika Beton juga tumbuh. Tahun lalu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih tercatat Rp 272,43 miliar. Laba bersih itu terpaut 56,68% ketimbang tahun 2015 yang tercatat Rp 173,88 miliar.


Reporter Agung Hidayat
Editor Rizki Caturini

PROYEK INFRASTRUKTUR

Feedback   ↑ x