Reporter: Leni Wandira | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) memprioritaskan program peremajaan tanaman atau replanting untuk meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit.
Emiten perkebunan ini menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sekitar Rp 1,3 triliun hingga Rp 1,4 triliun pada 2027, relatif sama dengan alokasi tahun ini.
Direktur Astra Agro Lestari Tingning Sukowignjo mengatakan, sebagian besar anggaran capex tahun depan akan digunakan untuk mempercepat peremajaan tanaman. Sepanjang 2026, AALI menargetkan replanting hingga 8.000 hektare, atau lebih dari dua kali lipat rata-rata peremajaan per tahun sebelumnya.
Baca Juga: Resource Alam (KKGI) Ungkap Biaya Eksplorasi Anak Usaha hingga September 2026
“Untuk tahun 2027 kurang lebih mungkin masih ada jumlah seperti itu. Jadi prioritas utama itu adalah di replanting,” ujar Tingning dikutip Jumat (9/10).
Menurut Tingning, perseroan saat ini mempercepat program peremajaan tanaman dengan laju hampir dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi AALI untuk meningkatkan produktivitas kebun dalam jangka panjang.
Selain untuk replanting, sebagian capex akan dialokasikan untuk pengadaan mesin dan peralatan guna mendukung operasional perkebunan. Investasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga kualitas operasional perseroan.
“Tujuannya adalah untuk mempercepat productivity, tentunya juga tetap menjaga kondisi saat ini tanpa mengurungkan kualitas atau kompetensi di kondisi saat ini,” kata Tingning.
Dari sisi kualitas tanaman, AALI juga mengandalkan varietas bibit unggul yang dikembangkan melalui kegiatan riset dan pengembangan (research and development atau R&D) internal. Pada 2025, perseroan merilis tiga varietas unggul yang memiliki ketahanan terhadap penyakit Ganoderma, yakni DxP AAL Nirmala MRG, DxP AAL Lestari MRG, dan DxP AAL Sejahtera MRG.
Tingning berharap penggunaan varietas tersebut dapat mendukung peningkatan produktivitas kebun pada masa mendatang.
Dari sisi operasional, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) AALI mencapai 558.000 ton pada semester I-2026. Sementara itu, volume penjualan CPO dan produk turunannya tercatat sebesar 898.000 ton, meningkat dibandingkan 883.000 ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: BULOG Raup Untung Rp 2,4 Triliun Hingga September, Siapkan Pabrik Karung Plastik
Kinerja keuangan AALI juga tumbuh pada semester I-2026. Perseroan membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 15,3 triliun, meningkat 5,6% dibandingkan Rp 14,45 triliun pada semester I-2025.
Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 1,10 triliun, naik 56,5% dari Rp 702 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Memasuki 2027, Tingning melihat kebutuhan minyak sawit untuk pangan dan biodiesel masih menjadi salah satu penopang permintaan, baik di pasar domestik maupun global. Konsumsi minyak sawit domestik hingga Juni 2026 tumbuh sekitar 5,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, antara lain didorong kebutuhan pangan dan penyerapan biodiesel.
Meski demikian, industri sawit masih menghadapi tantangan dari dinamika geopolitik, kebijakan, dan kondisi iklim yang dapat memengaruhi kegiatan operasional perkebunan.
“Masalah cuaca ini tak hanya dialami Indonesia, tetapi juga Malaysia,” ujar Tingning.
Melalui percepatan replanting, penggunaan bibit unggul, serta investasi pada mesin dan peralatan, AALI berupaya meningkatkan produktivitas kebun untuk menopang kinerja perseroan dalam jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














