kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.791
  • SUN92,51 0,63%
  • EMAS614.076 0,00%

Ada bea masuk dan perang dagang, ekspor CPO tahun ini akan menurun

Kamis, 09 Agustus 2018 / 17:08 WIB

Ada bea masuk dan perang dagang, ekspor CPO tahun ini akan menurun
ILUSTRASI. Tandan Buah Kelapa Sawit



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) memperkirakan ekspor minyak sawit baik crude palm oil (CPO), palm kernel oil (PKO) dan turunannya termasuk olechemical dan biodiesel tahun ini akan menurun sekitar 3% hingga 5%. Tahun lalu, ekspor minyak sawit mencapai 32,18 juta ton.

Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan, penurunan ini disebabkan beberapa hal seperti penerapan bea masuk untuk produk minyak sawit yang sangat tinggi, isu deforestasi dan kebijakan biofuel di Uni Eropa juga adanya perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China.


Menurut Mukti, akibat perang dagang tersebut, AS sebagai produsen utama kedelai mendapat hambatan ekspor kedelai ke China yang selama ini merupakan importir utama. "Amerika Serikat harus memasarkan kedelai ke luar China, dimana kedelai sama halnya kelapa sawit adalah sumber minyak nabati, sehingga suplai kedelai meningkat di dunia yang sedikit mempengaruhi pasar sawit," ujar Mukti kepada Kontan.co.id, Kamis (9/8).

Meski begitu, tak semua negara tujuan ekspor yang mengalami penurunan. Dia bilang, penurunan ekspor ini akan terjadi di India, Uni Eropa dan Afrika. Beberapa negara lain bahkan diperkirakan akan meningkatkan impor minyak sawitnya seperti China, Pakistan dan Bangladesh.

Dalam keterangan tertulis Gapki, di semester i ini, ekspor minyak sawit termasuk olekimia dan biodieselmenurun 2% dibandingkan tahun mencapai 15,30 juta ton dari tahun lalu yang sebesar 15,62 juta ton. Dimana volume ekspor minyak sawit selain oleokimia dan biodiesel pada semester I ini tercatat menurun 6% menjadi 14,16 juta ton dari 15,04 juta ton di semester I 2017.

Ekspor ke India dalam enam bulan pertama menurun signifikan takni sebesar 34% dari 3,74 juta ton menjadi 2,50 juta ton. Ekspor CPO dan produk turunannya ke Uni Eropa pun menurun 12% dari 2,71 juta ton menjadi 2,39 juta ton. Ekspor ke Afrika pun menurun sebesar 10%.

Sementara, ekspor ke China meningkat sebesar 23% dari 1,48 juta ton menjadi 1,82 juta ton. Ekspor ke Bangladesh meningkat sebesar 31%, Paskistan 7%, dan negara Timur Tengah 4%.

Untuk mengatasi penurunan ekspor ini, Mukti melihat perlu dilakukan upaya bersama dengan pemerintah sehingga India bisa menurunkan bea masuk, lebih gencar melakukan sosialisasi suatainable palm oil, mendorong peluang ekspor ke negara prospektif serta mempercepat penerapan kebijakan biofuel untuk PSO dan non PSO.

"Penggunaan Biofuel dalam negeri harus segera ditingkatkan, sehingga akan meningkatkan permintaan CPO. Kalau penggunaan dalam negeri neningkat, saya prediksi akan mendorong peningkatan harga CPO dan tentunya harga TBS juga terkerek naik," terang Mukti.

Sementara itu, pada enam bulan pertama tahun ini, harga CPO berkisar US$ 605 - US$ 695 per ton. Harga CPO global terus tertekan sejak awal Desember 2017, dan sampai semester I 2017, harga CPO belum pernah menyentuh US$ 700 per ton.


Reporter: Lidya Yuniartha
Editor: Komarul Hidayat

CPO

TERBARU
Seleksi CPNS 2018
KONTAN TV
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2018 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0006 || diagnostic_api_kanan = 0.0533 || diagnostic_web = 0.2970

Close [X]
×