Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BUMA Internasional Grup Tbk mulai menunjukkan pemulihan operasional yang ditopang meningkatnya jam kerja efektif dan membaiknya cycle time di berbagai site utama.
Meski kinerja sepanjang sembilan bulan pertama 2025 masih dipengaruhi gangguan besar pada pada triwulan pertama, tren kuartalan terus menguat. Pemulihan yang dimulai pada kuartal II berlanjut hingga kuartal III. Volume overburden (OB) removal pada kuartal II tumbuh 4% dari triwulan I, lalu pada kuartal III meningkat 5% dari triwulan sebelumnya
Jam kerja alat naik 29% hingga September, sementara jam non-produktif turun 53% berkat cuaca lebih kering dan pemulihan pascahujan yang cepat. Cycle time juga membaik 12% seiring perencanaan yang lebih solid dan perbaikan di disposal area, haul road, serta penanganan material geologi.
Efisiensi operasional menekan biaya unit secara signifikan. Biaya tunai per BCM pada kuartal III tercatat turun 28% dari kuartal I. Biaya tenaga kerja per BCM merosot 45% berkat disiplin shift yang lebih ketat, sedangkan biaya bahan bakar per BCM turun 14% seiring penurunan konsumsi sebesar 10%.
Baca Juga: BUMA Lunasi Lebih Awal Senior Notes US$ 212,25 Juta
Biaya perbaikan dan pemeliharaan per BCM juga turun 13% didukung condition-based maintenance dan manajemen komponen yang memperpanjang umur pakai rata-rata hingga 28%.
Pada kuartal III 2025, OB removal mencapai 128 MBCM dan produksi batu bara 22 juta ton, masing-masing naik 18% dan 12% secara kuartalan. Pendapatan meningkat 6% menjadi US$ 400 juta, sementara EBITDA naik menjadi US$ 63 juta (margin 19%) dari USD50 juta (margin 16%) pada 2Q25. Rugi bersih menyempit menjadi US$ 1 juta.
Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, menegaskan bahwa kinerja kuartal ketiga menunjukkan pemulihan. Ia bilang, peningkatan jam kerja efektif, cycle time yang lebih singkat, serta pengendalian biaya yang ketat mendorong kenaikan volume produksi, penurunan biaya per unit, dan penguatan EBITDA.
“Menjelang akhir tahun, Grup tetap fokus mempertahankan capaian ini, menjaga margin, dan memperkuat keunggulan operasional,” kata dia dalam keterangannya, Minggu (30/11/2025).
Meski kinerja karate II dan III membaik, kata dia, hasil sepanjang Januari-September masih tertekan akibat cuaca ekstrem dan gangguan operasional besar pada kuartal I, termasuk insiden keselamatan yang menyebabkan penghentian operasi 27 hari di dua site utama. Kinerja ini juga dipengaruhi ramp-down di sejumlah site Indonesia dan berakhirnya beberapa kontrak di Australia.
Baca Juga: Lewat BUMA, GP Ansor Siapkan Toko Modern untuk Kader: Investasi Mulai Rp 45 Juta
Sepanjang sembilan bulan pertama 2025, OB removal tercatat 337 MBCM dan produksi batu bara 60 juta ton, masing-masing turun 20% dan 8% YoY. Pendapatan mencapai US$ 1,131 miliar, turun 16% YoY, terutama akibat penurunan volume di bisnis kontraktor tambang.
EBITDA sepanjang sembilan bulan pertama 2025 tercatat US$ 127 juta dengan margin 14%, atau US$ 148 juta dengan margin 16% jika tanpa beban pesangon. Tapi, rugi bersihnya mencapai US$ 81 juta akibat penurunan EBITDA dan pencadangan piutang di Australia.
Belanja modal dalam sembilan bulan pertama mencapai USD149 juta, naik 12% secara tahunan, dengan 54% dialokasikan untuk pemeliharaan armada dan 46% untuk ekspansi kapasitas di sejumlah site utama Indonesia.
Selanjutnya: Pegadaian Siapkan Strategi Hadapi Lonjakan Gadai Akhir Tahun 2025
Menarik Dibaca: Yuk, Jaga Sungai & Lingkungan di Tengah Risiko Bencana yang Kian Naik dengan Cara Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













