kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.012   49,00   0,27%
  • IDX 5.792   97,05   1,70%
  • KOMPAS100 753   17,38   2,36%
  • LQ45 571   13,81   2,48%
  • ISSI 200   1,97   0,99%
  • IDX30 323   7,68   2,43%
  • IDXHIDIV20 397   8,26   2,12%
  • IDX80 85   1,98   2,38%
  • IDXV30 108   1,58   1,49%
  • IDXQ30 104   2,04   2,00%

Akademisi : Indonesia perlu waspada defisit beras 2018


Rabu, 28 Februari 2018 / 17:15 WIB
ILUSTRASI. BERAS IMPOR THAILAND


Reporter: Abdul Basith | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia masih harus mewaspadai defisit beras pada tahun 2018.

"Tahun 2018 kemungkinan masih defisit sekitar 1 juta ton-1,5 juta ton," ujar Dwi Andreas Santosa, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Rabu (28/2).

Menurut Dwi, stok beras yang penting menjadi perhatian adalah stok akhir dan awal tahun. Sementara pada awal tahun 2018, stok beras Bulog berada di bawah 1 juta ton.

Stok Bulog memiliki pengaruh terhadap harga pasar. Stok yang rendah akan mengindikasikan suplai turun sehingga harga cenderung menjadi naik. "Hal yang harus dijaga adalah stok di akhir tahun harus di atas 1 juta ton," terang Dwi.

Serapan beras, menurut Di juga perlu dijaga. Hal itu untuk membuat stok Bulog mampu memenuhi kebutuhan.

Dwi bilang Bulog perlu menyerap beras sebesar 2 juta ton-2,7 juta ton. Angka tersebut dinilai realistis untuk dilakukan dan dapat menjaga stok Bulog.

Meski begitu, saat ini stok beras Bulog masih tertolong dari beras impor. Hingga 28 Februari, realisasi pengadaan beras impor dari Bulog sebesar 261.000 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×