kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Aksi spekulan petani cabai picu anjloknya harga


Senin, 05 September 2011 / 09:00 WIB
Aksi spekulan petani cabai picu anjloknya harga
ILUSTRASI. Karyawan menunjukkan imitasi emas batangan Antam di Butik Emas, Jakarta. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj.


Reporter: Bernadette Christina Munthe | Editor: Dupla Kartini

JAKARTA. Komoditas cabai boleh jadi salah satu komoditas paling sensasional dalam setahun terakhir. Di Januari lalu, harga per kilogram si pedas pernah melejit menyaingi harga daging. Tapi dalam waktu beberapa bulan, harganya anjlok menjadi kurang dari separuh harga awal tahun.

Masih ingatkah Anda, awal tahun ini dibuka dengan berita bahwa harga cabai menembus Rp 40.000 per kg. tepatnya pada 10 Januari 2011, harga cabai merah keriting mencatat harga tertinggi sepanjang tahun, yakni sebesar Rp 45.676 per kg. Harga rata-ratanya di bulan Januari mencapai Rp 42.274 per kg.

Kementerian Perdagangan mencatat, rata-rata harga cabai merah keriting pada Agustus 2011 hanya Rp 14.470 per kg. Artinya, harga sudah anjlok 65,8%%. Kelakuan harga cabai merah biasa tak jauh berbeda, Pada Januari lalu, harganya rata-rata Rp 40.368 per kg. Lantas, sampai dengan Agustus, harga melorot 64,15% menjadi Rp 15.475 per kg.

Kondisi iklim menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi banyak sedikitnya produksi cabai. Di luar itu, Koordinator Wilayah Jawa Timur Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Sukoco mengatakan fluktuasi juga disebabkan oleh petani cabai musiman.

“Petani cabai ini sebenarnya salah satu yang paling spekulatif. Kalau harga bagus, semua latah menanam. Kalau harga jelek, semuanya menahan tidak menanam,” jelasnya saat dihubungi, Minggu (4/9).

Ia mencontohkan, di wilayah Jawa Timur, para petani cabai pada musim normal hanya sekitar 5.000 orang. Namun ketika harga cabai di pasar mulai tinggi jumlah petani cabai langsung bertambah sampai 15.000 orang. Ketika harga cabai rawit merah sempat menembus Rp 80.000 per kg di awal tahun, penambahan petani cabai bahkan mencapai 300%.

Padahal ketika kelebihan pasokan, harga akan kembali terpuruk Itulah yang terjadi tahun ini. Harga cabai memuncak sepanjang Januari sampai April. Kenaikan harga cabai itu akibat anomali cuaca, panen cabai berantakan sehingga pasokan terbatas.

Ketika harga sedang tinggi-tingginya itu, para petani tergiur untuk ikut menanam cabai. Nah, umur panen cabe ketika cuaca baik biasanya tiga bulan setelah ditanam. Makanya, panen cabai Juli sampai Agustus berlimpah.

Sukoco memprediksi situasi akan berbalik di bulan November dan Desember. Sebab di Agustus dan September ini, di saat harga melemah, para petani musiman akan beralih ke tanaman lain. Akibatnya, pasokan dua tiga bulan lagi akan turun dan harga melonjak. Apalagi pada triwulan keempat masih ada beberapa hari raya keagamaan yang menambah konsumsi masyarakat.

“Kalau yang profesinya petani cabai justru melihat ini waktu yang tepat untuk menanam. Jadi nanti panen di akhir tahun saat permintaan banyak dan harga baik,” imbuhnya. Ia juga menambahkan kalau harga cabai mulai merangkak naik sejak tiga hari sebelum lebaran. Sebab, tenaga buruh petik berkurang karena libur.

Populerkan cabai kering

Sukoco mengungkapkan, para petani musiman sulit dikendalikan karena akses bibit dan pupuk untuk menanam cabai terbilang mudah. Apalagi pemerintah tak bisa mengatur jenis komoditas yang ditanam petani berdasarkan UU No 41/ 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan.

Asosiasi menilai salah satu solusi meredam gejolak harga cabai adalah membentuk kemitraan yang menjamin panen petani dibeli pada tingkat harga tertentu.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Ibrahim Hasanuddin menjawab, hal ini sudah berlaku untuk jenis cabai besar. “Tetapi agak sulit untuk petani cabai keriting dan cabai rawit, karena kebanyakan petaninya spekulan yang mengincar harga tinggi saja,” jelas dia.

Ibrahim mengakui, komoditas cabai segar rentan terhadap fluktuasi harga. Karena itu penggunaan cabai kering dan olahan cabai lainnya perlu dipopulerkan. Pengolahan cabai tentunya bakal membuat harga cabai di tingkat petani lebih stabil.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo setuju bahwa masyarakat perlu mengurangi ketergantungan terhadap cabai segar dan menggantinya dengan cabai kering. Soalnya, cabai tidak tahan disimpan lama.

“Selain itu, dari aspek perdagangan tentu diharapkan agar pasokannya dapat mengalir berkesinambungan dalam jumlah, jenis dan waktu, sehingga fluktuasi harga tidak terjadi,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×