kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Alfamart akan memiliki 100 gerai di Filipina


Rabu, 02 September 2015 / 16:20 WIB
Alfamart akan memiliki 100 gerai di Filipina

Reporter: Nina Dwiantika | Editor: Havid Vebri

JAKARTA. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk dengan label ritel Alfamart menyiapkan beberapa strategi untuk menjaga pertumbuhan bisnisnya di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi. Salah satu strategi perusahaan adalah meningkatkan jumlah gerai di luar negeri untuk meningkatkan ekspor.

"Kami akan membuka 100 toko Alfamart di Filipina pada semester II/2015," kata A. Hans Prawira, Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya, Rabu (2/9).


Hingga semester pertama, perusahaan telah membuka 60 gerai Alfamart di Filipina. Dengan kehadiran toko Alfamart di luar negeri, perusahaan berharap bisa menggenjot ekspor produk-produk lokal ke luar negeri. Rupiah yang melemah diharapkan bisa membuat harga produk ekspor bersaing.

Perusahaan berkode saham AMRT di Bursa Efek Indonesia (BEI) ini juga akan menambah jumlah gerai di dalam negeri untuk meningkatkan volume penjualan barang. Targetnya, secara nasional sekitar 1.200 toko baru sepanjang 2015.

Hans menambahkan, strategi lain perusahaan untuk menjaga pertumbuhan bisnis adalah menaikkan harga jual kepada konsumen. Ini sebagai opsi terakhir ketika pemasok (supplier) menaikkan harga ke Alfamart, sehingga mau tidak mau perusahaan akan mengerek harga jual ke konsumen. "Biaya di kisaran 4%-10%," tambah Hans.

Meskipun produk yang dipasarkan di toko Alfamart merupakan produk lokal, namun beberapa diantaranya menggunakan bahan baku impor. Akibatnya, ikut terkena imbasnya pada saat rupiah melemah. Hans mengakui, opsi menaikkan harga bisa menurunkan daya beli konsumen yang berujung pada melambatnya pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan.

Hans menambahkan, bahwa kondisi perekonomian saat ini adalah tantangan bagi peritel. Karena itu, perusahaan tidak mematok target yang muluk untuk tahun ini. “Target pertumbuhan kami hanya sekitar 6%-10%," ujarnya. Hans juga menegaskan bahwa untuk menggairahkan perekonomian nasional, tidak cukup hanya dengan mengandalkan festive season, yakni momen Ramadhan dan Lebaran. Peritel sangat menunggu belanja pemerintah (government spending).

“Saya berharap anggaran belanja pemerintah segera digulirkan agar mendongkrak daya beli. Proyek infrastruktur yang belum dijalankan pemerintah, misalnya, bisa menstimulus daya beli masyarakat,” jelasnya.




TERBARU

×