kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.627.000   -10.000   -0,38%
  • USD/IDR 17.636   -21,00   -0,12%
  • IDX 6.675   55,28   0,84%
  • KOMPAS100 874   7,71   0,89%
  • LQ45 662   5,95   0,91%
  • ISSI 233   1,88   0,81%
  • IDX30 370   2,56   0,70%
  • IDXHIDIV20 457   2,27   0,50%
  • IDX80 100   0,88   0,89%
  • IDXV30 127   0,86   0,68%
  • IDXQ30 118   0,68   0,58%

Anggaran Subsidi Energi 2027 Dipangkas, DEN Minta Kuota BBM dan LPG Tetap Dijaga


Selasa, 08 September 2026 / 11:58 WIB
Anggaran Subsidi Energi 2027 Dipangkas, DEN Minta Kuota BBM dan LPG Tetap Dijaga
ILUSTRASI. Warga membeli LPG 3 kg di agen kawasan Bintaro, Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Anggaran (Banggar) DPR dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sepakat memangkas alokasi subsidi energi menjadi Rp 261,5 triliun dalam RAPBN 2027. 

Nilai tersebut menyusut dari usulan awal pemerintah yang sempat dipatok sebesar Rp 272,95 triliun. Penurunan ini didasari perubahan asumsi harga minyak mentah Indonesia (ICP) menjadi US$ 75 per barel dan kurs rupiah Rp 17.500 per dolar AS.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Saleh Abdurrahman menilai, perubahan angka alokasi anggaran subsidi energi sangat dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi global. 

Baca Juga: Pelita Air Siap Kembali Layani Penerbangan dari Soetta

Meski kuota secara nominal menurun, pemerintah diminta menjaga agar pemangkasan anggaran tersebut tidak memangkas volume penyaluran komoditas energi bersubsidi di lapangan.

"Kalau nilai subsidi tentu dipengaruhi asumsi perkembangan harga ICP dan juga nilai tukar. Jadi tentu akan turun. Yang penting volumenya tidak mengalami penurunan karena sudah didasarkan pada berbagai pertimbangan khususnya kondisi pertumbuhan ekonomi," ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (8/9/2026).

Saleh menjelaskan, efektivitas penyerapan anggaran subsidi energi pada tahun mendatang bakal sangat bergantung pada perbaikan tata kelola penyaluran. Menurutnya, penguatan pengawasan penting agar alokasi belanja negara tersebut betul-betul dinikmati oleh kelompok masyarakat penerima manfaat.

"Kita harapkan di 2027 pengawasan akan lebih baik agar masyarakat yang mendapatkan subsidi BBM dan LPG adalah yang betul-betul membutuhkan. Selain dengan sistem digitalisasi yang lebih akurat dan tepat sasaran, pelibatan Pemda juga perlu diperkuat dalam pengawasan subsidi BBM dan LPG," jelasnya.

Lebih lanjut, Saleh menyoroti pentingnya stabilitas harga komoditas dan nilai tukar agar target efisiensi anggaran subsidi energi dapat terealisasi tanpa harus memicu penyesuaian harga di tingkat konsumen. Menurutnya, pergerakan geopolitik dunia akan memegang peranan vital terhadap realisasi beban belanja energi nasional.

"Tentu saja kita berharap kondisi geopolitik global makin stabil sehingga harga minyak stabil dan turun, demikian pula kurs rupiah stabil dan semakin kuat," pungkasnya.

Baca Juga: Gangguan Bandara Soekarno Hatta Berpotensi Tunda Arus Ekspor-Impor US$ 168 Juta

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×