Reporter: Vina Elvira | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyoroti pentingnya transformasi digital untuk meningkatkan daya saing industri ritel di Indonesia.
Pemanfaatan teknologi dinilai tidak cukup hanya untuk mendorong transaksi daring, tetapi juga perlu meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat ketahanan bisnis, dan menciptakan pengalaman belanja yang relevan bagi konsumen.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Aprindo Solihin dalam Indonesia Country Report pada Asia-Pacific Retailers Convention and Exhibition (APRCE) 2026 di Tokyo, Jepang.
Dalam paparannya, Solihin menggambarkan konsumen Indonesia memiliki tiga karakter utama, yakni sensitif terhadap nilai dan harga (value-conscious), mengutamakan kemudahan (convenience-led), serta semakin terbiasa dengan layanan digital (digital-first).
Baca Juga: Sentul City (BKSL) Luncurkan Uptown Park, Siapkan 110 Hunian Premium di Sentul City
"Karakteristik tersebut membawa implikasi langsung terhadap strategi bisnis ritel. Konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kemudahan memperoleh produk, akses terhadap gerai, metode pembayaran, serta pengalaman berbelanja yang terintegrasi," ujarnya, dalam keterangan resmi, Jumat (9/10).
Menurut Solihin, perkembangan sistem pembayaran digital dan QRIS juga telah menjadikannya bagian dari ekspektasi konsumen, bukan lagi sekadar inovasi tambahan.
Kondisi tersebut mendorong pelaku usaha ritel untuk mengintegrasikan teknologi digital ke dalam seluruh proses bisnis, mulai dari pengelolaan persediaan dan distribusi hingga transaksi serta pelayanan konsumen.
Selain digitalisasi, Aprindo menempatkan aspek keberlanjutan sebagai bagian penting dari transformasi industri ritel. Kedua aspek tersebut dinilai dapat mendukung efisiensi, ketahanan, dan daya saing bisnis.
Pendekatan ini dinilai relevan bagi Indonesia yang memiliki karakteristik konsumen dan kondisi geografis beragam. Karena itu, strategi bisnis perlu menyesuaikan berbagai format ritel, tingkat harga, dan kebutuhan konsumen, alih-alih mengandalkan satu model bisnis untuk seluruh segmen pasar.
Meski demikian, transformasi digital tidak hanya bergantung pada adopsi teknologi. Industri ritel juga membutuhkan dukungan ekosistem, mulai dari regulasi yang dapat diprediksi, persaingan digital yang adil, hingga infrastruktur distribusi yang memadai.
"Meski demikian, transformasi digital bukan hanya persoalan teknologi. Industri juga membutuhkan ekosistem yang mendukung, termasuk regulasi yang dapat diprediksi, persaingan digital yang adil, infrastruktur distribusi yang memadai, serta kolaborasi antara pemerintah, peritel, pemasok, dan UMKM," pungkasnya.
Aprindo memandang perannya sebagai penghubung berbagai pemangku kepentingan untuk mendorong transformasi industri ritel yang berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, Aprindo turut menegaskan lima isu strategis yang perlu menjadi perhatian industri ritel di kawasan Asia Pasifik. Kelima isu tersebut meliputi penguatan daya beli konsumen, pengembangan ekosistem ritel dan UMKM yang inklusif, penguatan ketahanan rantai pasok, percepatan transformasi digital dan keberlanjutan melalui green and sustainable retail, serta penguatan kolaborasi pemerintah dan industri.
APRCE 2026 dibuka oleh Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. Dalam kesempatan tersebut, ia berharap penyelenggaraan APRCE 2026 dapat membahas berbagai isu ritel dan memberikan kontribusi besar bagi perkembangan industri, khususnya di kawasan Asia Pasifik.
Founder Alfamart Djoko Susanto turut hadir bersama para pemimpin dan pelaku industri ritel dari berbagai negara.
Baca Juga: Agung Intiland Kembangkan Kawasan Industri, Siapkan Laksana Business Park
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














