kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.920.000   30.000   1,04%
  • USD/IDR 16.900   45,00   0,27%
  • IDX 7.935   -168,62   -2,08%
  • KOMPAS100 1.117   -23,38   -2,05%
  • LQ45 816   -13,78   -1,66%
  • ISSI 278   -6,99   -2,45%
  • IDX30 426   -6,36   -1,47%
  • IDXHIDIV20 515   -6,10   -1,17%
  • IDX80 125   -2,26   -1,78%
  • IDXV30 139   -2,98   -2,10%
  • IDXQ30 139   -1,10   -0,79%

Atlantis dan SBS bangun pembangkit arus laut


Senin, 25 April 2016 / 11:29 WIB
Atlantis dan SBS bangun pembangkit arus laut


Reporter: Emir Yanwardhana | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Altantis Resources Ltd telah menandatangani memorandum of understading (MoU) dengan SBS Intl Ltd untuk membangun pembangkit listrik di Indonesia. Konsorsium perusahaan pembangkit asal Singapura dan Inggris itu akan membangun pembangkit listrik tenaga pasang surut air atau tidal energy (tidal power).

Dalam MoU, Atlantis dan SBS akan mengembangkan pembangkit listrik  berkapasitas 150 megawatt (MW) untuk pembangkit tidal energy. Seperti yang dilansir dalam rilisnya, Jumat, (21/4) nilai pembangunan ini bisa mencapai US$ 750 Juta dengan pembangunan secara bertahap.

"Indonesia merupakan negeri maritim dengan jumlah pulau mencapai 17.000. Kami sangat optimis proyek ini dapat dapat memberikan pilihan untuk energi terbarukan," kata CEO Atlantis Tim Cornelius. 

Menurut Tim, proyek ini akan didukung oleh kontrak pembelian atau power purchase agreement (PPA) oleh PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) selama 25 tahun. 

Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Syah Darwin Siregar mengakui, SBS dan Atlantis memang akan membangun proyek pembangkit listrik tenaga arus laut. Namun realisasinya tidak dalam waktu dekat ini. "Belum tahun ini, masih lama," ujarnya kepada KONTAN, Minggu (24/4).

Selain itu, ia menyebut hingga kini PLN belum menerima hasil feasibility study SBS dan Atlantis. "Perjanjian jual beli listrik arus laut belum ada sehingga dipastikan kontraknya lama, dan ini tergantung hasil studi," kata Syah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×