kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   -4.000   -0,16%
  • USD/IDR 18.080   20,00   0,11%
  • IDX 5.388   59,54   1,12%
  • KOMPAS100 697   10,48   1,53%
  • LQ45 545   8,81   1,64%
  • ISSI 183   1,92   1,06%
  • IDX30 305   4,36   1,45%
  • IDXHIDIV20 400   6,31   1,60%
  • IDX80 80   1,24   1,57%
  • IDXV30 111   1,31   1,20%
  • IDXQ30 101   1,89   1,91%

Bahlil Mau Setop Ekspor Gas, Kadin dan Industri Berharap Pasokan Makin Lancar


Kamis, 22 Oktober 2026 / 15:24 WIB
Bahlil Mau Setop Ekspor Gas, Kadin dan Industri Berharap Pasokan Makin Lancar
ILUSTRASI. Pendistribusian Gas Bumi Jalur Cisem 2 (ANTARA FOTO/Dedi Suwidiantoro)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kalangan industri menyambut positif rencana Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia untuk mengurangi hingga menghentikan ekspor gas bumi demi memprioritaskan kebutuhan industri dalam negeri.

Dukungan datang dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia serta Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI). Kebijakan tersebut dinilai dapat memperbaiki kepastian pasokan energi sekaligus mendorong peningkatan produksi industri nasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Perindustrian Saleh Husin mengatakan, rencana tersebut menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap industri dalam negeri yang selama ini menghadapi kendala pasokan gas.

Baca Juga: Menperin Minta Cisarua Mountain Dairy (CMRY) Produksi Keju Khas Indonesia dan Es Krim

Menurutnya, ketersediaan gas yang memadai dan berkelanjutan menjadi salah satu faktor penting untuk meningkatkan kapasitas produksi, menarik investasi, memperkuat daya saing manufaktur, serta menciptakan lapangan kerja.

“Pemerintah menunjukkan keberpihakan dengan mengutamakan kebutuhan industri dalam negeri,” ujar Saleh kepada Kontan, Kamis (22/10/2026).

Saleh menilai, kebutuhan industri domestik perlu menjadi prioritas karena gas merupakan sumber energi utama bagi sejumlah sektor manufaktur. Dengan pasokan yang lebih terjamin, industri dapat meningkatkan produksi dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.

“Sebagaimana kita ketahui saat ini industri dalam negeri pengguna gas justru kesulitan mendapatkan pasokan gas, jadi langkah opsi menyetop ekspor gas ke negara tetangga adalah langkah yang sangat tepat, berarti pemerintah telah berpaling mengutamakan kebutuhan dalam negeri,” kata Saleh.

Ia juga mengapresiasi respons cepat Menteri ESDM Bahlil terhadap arahan Presiden Prabowo Subianto terkait prioritas kebutuhan energi domestik.

“Sekali lagi salut buat Mas Menteri Bahlil yang sangat cepat merespon bahasa tubuh dan keinginan Bapak Presiden Prabowo saat rapat kabinet kemarin,” ujar Saleh.

Dukungan juga datang dari industri keramik. Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto mengatakan, tambahan pasokan gas sangat dibutuhkan industri keramik yang menggunakan gas dalam proses pembakaran bersuhu tinggi.

Menurut Edy, kepastian pasokan dengan harga yang kompetitif dapat menjadi modal bagi industri keramik untuk meningkatkan utilisasi pabrik dan kembali menjalankan rencana ekspansi yang sempat terkendala.

“Inilah kebijakan yang telah lama kami tunggu dan harapkan sebagai industri penerima HGBT. Industri keramik akan kembali bergairah dan siap melanjutkan tahapan ekspansinya,” kata Edy.

Ia berharap kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada industri keramik, tetapi juga menciptakan efek berganda terhadap sektor lain seperti konstruksi, properti, transportasi, hingga industri bahan baku.

“Berikan kami gas, kami ciptakan multiplier effect dan dukung pertumbuhan ekonomi nasional,” tegas Edy.

Adapun prioritas pemanfaatan gas untuk kebutuhan domestik telah memiliki landasan regulasi, salah satunya Peraturan Menteri ESDM Nomor 6 Tahun 2016 tentang alokasi dan pemanfaatan gas bumi.

Meski demikian, pelaksanaan kebijakan penghentian atau pengurangan ekspor gas tetap perlu memperhatikan ketentuan hukum, kontrak penjualan gas, serta ketersediaan pasokan.

Kadin dan ASAKI berharap rencana tersebut segera diwujudkan dalam kebijakan yang konkret sehingga industri mendapatkan kepastian pasokan energi. Dengan demikian, kapasitas produksi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja di sektor manufaktur dapat terus meningkat.

Baca Juga: Multipolar Technology (MLPT) Bidik Peluang Bisnis Orkestrasi AI di Era Frontier AI

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×