kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.595.000   15.000   0,58%
  • USD/IDR 17.912   -76,00   -0,42%
  • IDX 6.071   -50,56   -0,83%
  • KOMPAS100 785   -8,35   -1,05%
  • LQ45 601   -6,98   -1,15%
  • ISSI 211   -1,12   -0,53%
  • IDX30 333   -4,43   -1,31%
  • IDXHIDIV20 424   -2,18   -0,51%
  • IDX80 90   -0,99   -1,09%
  • IDXV30 115   -0,39   -0,33%
  • IDXQ30 109   -0,96   -0,88%

Bayang-Bayang Ketidakpastian Ekonomi, APINDO: Perusahaan Tahan Ekspansi Usaha


Rabu, 30 September 2026 / 20:12 WIB
Bayang-Bayang Ketidakpastian Ekonomi, APINDO: Perusahaan Tahan Ekspansi Usaha
ILUSTRASI. Pusat Logistik Berikat (Dok/PT Sarana Gemilang)


Reporter: Genta Disa | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mengisyaratkan para pelaku usaha saat ini memilih untuk menahan dan menunda rencana ekspansi bisnis.

Ketidakpastian tingkat konsumsi masyarakat, lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga ancaman kenaikan suku bunga menjadi pertimbangan utama dunia usaha untuk mengambil sikap berhati-hati.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan APINDO, Bob Azam, mengungkapkan bahwa dunia usaha di Indonesia tengah menghadapi iklim ekonomi yang kurang menguntungkan, baik dari faktor domestik maupun tekanan global.

Baca Juga: Kalla Group Dorong Implementasi AI, 13 Tantangan Bisnis Mulai Diotomatisasi

"Terus terang saat ini perusahaan menghindari ekspansi dulu. Ketidakpastian konsumsi, kenaikan harga bahan bakar, dan ada kecenderungan kenaikan suku bunga ke depan menjadi hal yang harus diwaspadai oleh pengusaha," ujar Bob Azam kepada awak media seusai konferensi pers APINDO di Jakarta, Rabu (30/9/2026) malam.

Bob menegaskan bahwa penundaan ini bukan bentuk keengganan untuk bertumbuh, melainkan langkah mitigasi risiko di tengah turbulensi ekonomi global.

Kombinasi dari lonjakan biaya produksi dan tingginya biaya modal (cost of money) menuntut pengusaha untuk kalkulatif dalam mengambil langkah strategis.

"Bukannya kita tidak mau ekspansi, tetapi kita berhati-hati. Apalagi nanti cost of money-nya juga tinggi," tambah Bob yang juga menjabat sebagai Vice President Director PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

APINDO turut menyoroti beban regulasi ketenagakerjaan dan pengupahan yang dinilai belum memberikan kepastian jangka panjang bagi investor.

Menurut Bob, kenaikan biaya operasional yang tidak diimbangi dengan peningkatan produktivitas hanya akan memperberat daya saing industri nasional, khususnya sektor padat karya.

"Jadi kita harus membuat satu sistem yang memberikan kepastian bagi buruh juga, bagi dunia usaha, sekaligus juga bagi investor. Karena mereka harus mengkalkulasikan cost-nya dia 5 tahun ke depan kayak apa kalau ingin dapat kontrak-kontrak jangka panjang. Nah, kalau misalnya rumusan ini berubah-ubah tiap tahun, ini kan menyebabkan ketidakpastian pengusaha." ujarnya.

Baca Juga: Diskon LNG Industri US$13/MMBtu Berakhir 2026, ESDM Belum Bahas Perpanjangan di 2027

Guna menjaga ketahanan dunia usaha dan mencegah potensi pemutusan hubungan kerja (PHK), APINDO mendorong pemerintah untuk menghadirkan regulasi yang adaptif serta membangun ekosistem pelatihan.

"Jadi kita bukan anti kenaikan upah, tapi kalau mau naikin upah, produktivitasnya segera dinaikkan. Nah sekarang menaikkan produktivitas siapa? Ya pelatihan,” pungkas Bob.

Pengusaha berharap adanya kepastian iklim usaha agar fokus bisnis dapat dialihkan kembali pada penguatan produktivitas dan ekspansi jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×