Reporter: Leni Wandira | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kalla Group memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk kebutuhan operasional dan bisnis.
Dalam forum bersama Google Cloud dan tridorian di Makassar pada 14 September 2026, perusahaan mengembangkan 16 produk demo untuk menjawab 13 tantangan bisnis melalui mini-hackathon selama 45 menit.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari langkah Kalla untuk memperluas pemanfaatan AI dari sistem internal menuju berbagai proses bisnis. Namun, 16 produk yang dihasilkan masih berada pada tahap demo dan belum seluruhnya diterapkan sebagai solusi operasional.
Head of ICT Kalla Group Razmal Djamal mengatakan, perusahaan tidak hanya berfokus pada penggunaan teknologi AI, tetapi juga memastikan pemanfaatannya menghasilkan nilai bisnis yang terukur.
“Di Kalla Group, fokus kami melampaui sekadar penerapan teknologi AI. Kami mentransformasi organisasi untuk secara konsisten mengubah data dan AI menjadi nilai bisnis yang terukur yang dibangun di atas fondasi keamanan, privasi dan tata kelola yang kuat,” ujar Razmal dalam keterangannya, Rabu (30/9/2026).
Kalla telah mulai mengembangkan pemanfaatan AI dalam sistem bisnis setidaknya sejak 2022. Implementasi kemudian diperluas melalui MaccAI sejak 2024 sebagai platform IT service management, helpdesk dan ticketing yang dilengkapi chatbot berbasis large language model (LLM).
Baca Juga: NexAI Bidik Rp 2,54 Triliun dari Rights Issue Guna Kembangkan AI Data Center
Platform tersebut digunakan untuk melayani lebih dari 3.000 karyawan Kalla di Indonesia. MaccAI kemudian dikembangkan dengan fitur AI-powered assistant, knowledge base perusahaan dan otomasi alur kerja yang terhubung dengan fungsi IT, HR, general affairs, legal dan fungsi lainnya.
Pada 2025, Kalla juga menyatakan tengah menjajaki penerapan Agentic AI dalam sistem internal sekaligus menyiapkan platform AI internal. Pengembangan tersebut mencakup pengelolaan data di pusat data Kalla serta tata kelola untuk menjaga keamanan dan keberlanjutan pemanfaatan AI.
Dalam forum terbaru, pendekatan AI diarahkan untuk mengidentifikasi kebutuhan bisnis secara lebih spesifik. Sebanyak 13 tantangan perusahaan digunakan sebagai dasar pengembangan solusi dan menghasilkan 16 demo dalam sesi mini-hackathon.
Lead Solutions Architect tridorian Stanley Dave Teherag mengatakan, pendekatan tersebut ditujukan untuk menguji penerapan Agentic AI pada berbagai alur kerja perusahaan.
“Dalam waktu singkat, peserta bergerak dari tahap mendefinisikan masalah operasional hingga menguji agen AI berbasis tujuan yang mampu mengoordinasikan tugas bisnis kerja konkret bagi Kalla Group untuk mengevaluasi konsep mana yang layak dikembangkan dan diterapkan lebih lanjut,” jelas Stanley.
Enterprise Account Manager tridorian Agung Pramana Yuda mengatakan, perusahaan dapat memulai transformasi AI dari kebutuhan operasional yang sederhana, seperti otomatisasi pekerjaan berulang, penyederhanaan pelaporan dan peningkatan kemampuan forecasting.
Baca Juga: Investasi Data Streaming Mulai Geser AI, Ini Strategi Perusahaan di 2026
“Transformasi AI yang sesungguhnya tidak mengharuskan kita menunggu berbulan-bulan untuk sebuah terobosan, transformasi ini dimulai sejak hari pertama dengan menghilangkan hambatan operasional sehari-hari melalui otomatisasi tugas berulang, penyederhanaan pelaporan dan penyempurnaan proyeksi atau forecasting,” ujar Agung.
Perluasan penggunaan AI tersebut berlangsung di tengah meningkatnya pemanfaatan teknologi AI di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital pada Februari 2026 menyebut tingkat adopsi AI di Indonesia telah mencapai 92%. Namun, pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan nilai tambah ekonomi masih perlu diperluas.
Sementara itu, Microsoft Work Trend Index 2025 mencatat 59% pemimpin perusahaan di Indonesia menyatakan perusahaannya telah menggunakan agen AI untuk mengotomatisasi pekerjaan.
Di sisi lain, tata kelola menjadi tantangan seiring berkembangnya AI menuju sistem yang mampu menjalankan tugas secara lebih mandiri.
Studi IBM terhadap 502 pemimpin bisnis senior di Indonesia pada 2025 menunjukkan 93% responden percaya diri terhadap kemampuan perusahaan menerapkan AI, tetapi hanya 24% yang menyatakan memiliki proses tata kelola AI yang jelas.
Kalla menempatkan pengembangan Agentic AI sebagai tahap lanjutan dari pemanfaatan AI yang sebelumnya telah diterapkan melalui sistem internal dan MaccAI.
Setelah menghasilkan sejumlah prototipe, tantangan berikutnya adalah menentukan use case yang dapat diterapkan secara operasional dengan mempertimbangkan kebutuhan bisnis, kualitas data, keamanan, tata kelola dan manfaat yang dapat diukur.
Baca Juga: Risiko AI: Menemukan Celah Sendiri yang Tak Diprediksi Manusia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














