kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.857.000   -65.000   -2,22%
  • USD/IDR 17.020   -18,00   -0,11%
  • IDX 7.027   -157,66   -2,19%
  • KOMPAS100 971   -21,90   -2,21%
  • LQ45 715   -12,21   -1,68%
  • ISSI 251   -5,90   -2,30%
  • IDX30 389   -4,63   -1,18%
  • IDXHIDIV20 483   -4,52   -0,93%
  • IDX80 109   -2,25   -2,01%
  • IDXV30 133   -1,42   -1,05%
  • IDXQ30 127   -1,23   -0,96%

BCPG Thailand membeli 33,33% saham Star Energy


Selasa, 01 Agustus 2017 / 10:20 WIB


Reporter: Pratama Guitarra | Editor: Wahyu T.Rahmawati

JAKARTA. Bisnis energi di Indonesia masih cerah. Tengok saja, BCPG Public Company Limited, mengakuisisi 33,33% saham Star Energy. Nilainya sekitar US$ 357 juta. Akuisisi ini sudah disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) perusahaan energi hujau alias baru dan terbarukan asal Thailand itu pada 13 Juni 2017.

Ini adalah bagian dari upaya menggenjot Star Energy di bisnis energi, serta konsolidasi usaha. Maklum, selain BCPG, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), akan mengakuisisi sekitar 66% selebihnya atau mayoritas saham Star Energy senilai sekitar US$ 700 juta.

Bundit Sapianchai, President BCPG Public Company Ltd, mengatakan setelah proses akuisisi rampung investasi tersebut diharapkan bisa berkontribusi terhadap profit perusahaan. "Akuisisi ini sudah disetujui RUPS BCPG," terangnya, melalui situs resmi BCPG Co Ltd, pekan lalu.

Perusahaan ini berharap berbagai proyek Star Energy mulai berkontribusi dalam pendapatan secepatnya setelah proses akuisisi selesai di kuartal III tahun ini. "Melalui akuisisi ini, kami menjadi bagian dari tiga proyek geotermal terbesar di Indonesia dengan total rata-rata produksi 182 megawatt," tandasnya.

Rudy Suparman, Wakil Direktur BRPT dan CEO Star Energy, menyatakan, akuisisi BCPG Public Company Ltd ini hanya untuk memperkuat kepemilikan saham saja. "Dan Star Energy siap mengantisipasi proyek-proyek skala besar," ungkap dia kepada KONTAN, Senin (31/7).

Masuknya investor baru ke Star Energy tidak membuat pengembangan dialihkan ke pihak lain. Manajemen Star Energy masih memegang kendali atas proyek-proyek geotermal saat ini. "Tak ada yang terganggu, dan geotermal tetap berjalan," tegas Rudy.

Ia menerangkan, pasca akuisisi oleh BCPG, secara umum pemegang Star Energy ada dua. Yakni, milik keluarga Prajogo Pangestu yang menguasai sekitar 66,7% saham Star Energy, dan 33,3% milik BCPG. "Nah milik Pak Prajogo itu sudah di MoU kan ke Barito Pacific," ujarnya.

BRPT memang telah menandatangani supplemental memorandum of understanding (MoU) dengan dua pemegang saham Star Energy Group Holdings Pte Ltd (SEGHL). Yakni Star Energy Investment Ltd dan SE Holdings Limited pada 21 Maret lalu, untuk melakukan akuisisi sebagian besar saham SEGHL.

Yunus Saifulhak, Direktur Panas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyatakan, akuisisi kepemilikan saham Star Energy oleh BCPG Public Company Ltd sudah dilaporkan ke pihaknya dan Kementerian Keuangan. "Akuisisi saham hal yang wajar dalam berbisnis. Yang penting proyek tidak terganggu," ujarnya ke KONTAN, Senin (31/7).

Dengan akuisisi ini otomatis akan ada dana baru yang masuk ke Star Energy, sehingga pengembangan geotermal menjadi bisa lebih bagus. "Jangan lupa, akuisisi saham itu tidak menjadi mayoritas. Yang jelas kepemilikan mayoritas harus di tangan Indonesia," imbuh Yunus.

Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Surya Dharma bilang, investasi awal proyek geotermal memang besar. "Perlu ada perusahaan yang memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk mengembangkan geotermal," kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×