CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.012,04   -6,29   -0.62%
  • EMAS990.000 0,00%
  • RD.SAHAM -0.27%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

Begini prospek dan tantangan emiten baja di tahun 2021


Jumat, 11 Juni 2021 / 10:47 WIB
Begini prospek dan tantangan emiten baja di tahun 2021
ILUSTRASI. Industri baja Indonesia


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Digadang-gadang menjadi tahun pemulihan, sejumlah emiten baja memasang target optimistis di tahun 2021.

Lihat saja, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang pasar target pendapatan naik 43% dibanding realisasi tahun 2020. Ini membuat pendapatan perusahaan pelat merah itu di akhir 2021 dapat mencapai 28 triliun.

Selain itu, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) juga percaya diri kinerja keuangan di tahun ini membaik. Jika pada tahun fiskal 2020, GGRP masih menanggung rugi bersih hingga US$ 8,9 juta, maka pada tahun fiskal 2021, perusahaan yakni mampu cetak laba bersih lebih dari US$ 20 juta.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada menilai, jika melihat prospek industri baja, maka harus pula melihat prospek usaha industri yang menjadi konsumen produk baja, seperti otomotif, pelayaran, konstruksi, manufaktur, dan lainnya.

Baca Juga: Pengusaha berharap ekspor Indonesia ke Pakistan bisa beragam

Reza mengatakan, jika di tahun ini diasumsikan mulai ada pemulihan, maka dapat berimbas positif pada perbaikan industri baja sehingga dapat mengangkat kinerja para produsen dan pengolah baja tanah air.

“Nanti kami akan melihat siapa yang dapat mengambil pangsa pasar dari baja, sehingga berimbas pada peningkatan kinerjanya,” terang Reza saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (10/6) malam.

Hanya saja, dia menilai terdapat masalah yang membayangi industri logam ini, salah satunya yakni ancaman impor baja, khususnya dari China. Mengingat baja dari China memiliki harga yang lebih murah dari baja domestik. 

Reza berpendapat, karena bentuknya yang bersifat government to government (G to G), maka perlindungan industri baja bisa dimulai dari kebijakan  pemerintah untuk membatasi masuknya impor baja.”Atau kalau memang mau masuk (impor), harus ada aliansi dengan pengolah baja lokal,” sambung dia.

Sebelumnya, Presiden Direktur GGRP Abednedju Giovano Warani Sangkaeng juga menyebut salah satu tantangan utama adalah serangan baja impor.

 

 

Dia bilang, industri baja adalah aset nasional yang perlu dilindungi oleh pemerintah. Untuk itu, dirinya berharap pemerintah melindungi industri baja dalam negeri dan memastikan daya saing yang lebih kompetitif di pasar.

Diantaranya bisa melalui kebijakan trade remedies yang merupakan tindakan yang diambil untuk merespon subsidi (countervailing duty), penjualan di bawah nilai wajar (anti-dumping), dan lonjakan impor (safe-guards).

Selain itu, ketersediaan energi juga menjadi tantangan bagi industri baja, dimana industri baja merupakan industri yang memerlukan energi cukup besar.

 

Selanjutnya: Emiten baja memasang target optimistis tahun ini

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU
Kontan Academy
Data Analysis with Excel Pivot Table Supply Chain Management on Distribution Planning (SCMDP)

[X]
×