kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Begini respons beberapa emiten sawit soal pemboikotan sawit Malaysia oleh India


Rabu, 15 Januari 2020 / 19:46 WIB
Begini respons beberapa emiten sawit soal pemboikotan sawit Malaysia oleh India
ILUSTRASI. Pemerintah India menginstruksikan para pelaku importirnya untuk menghindari pembelian produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia.

Reporter: Muhammad Julian | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Hubungan India dan Malaysia sedang tegang. Pemerintah India pun menginstruksikan para pelaku importirnya untuk menghindari pembelian produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia.

Keputusan India itu dianggap akan menguntungkan produsen CPO Indonesia. Head of Investor Relations and Public Relations PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) Michael Kesuma mengatakan, aksi penghentian pembelian impor CPO Malaysia oleh India bisa menjadi berkah bagi pelaku industri sawit dalam negeri.

Dilihat berdasarkan kemampuan produksinya, Indonesia dan Malaysia merupakan dua negara penghasil CPO terbesar di dunia. Oleh karenanya, Indonesia secara otomatis akan menjadi pemasok alternatif yang paling ‘pas’ ketika importir India memutuskan untuk melakukan penghentian impor CPO dari Malaysia dan mencari pemasok baru untuk memenuhi kebutuhan CPO dalam jumlah besar.

Baca Juga: Gapki: Indonesia harus jaga pasar CPO Asia Selatan

“Kalau misalnya India enggak beli dari Malaysia ya dia beli dari kita lah, karena kita merupakan substitusi dari Malaysia,” terang Michael kepada Kontan.co.id, Rabu (15/1).

Sebagai gambaran, dikutip dari Reuters, India diketahui mengimpor sebanyak 9 juta minyak sawit setiap tahunnya. Sebagian besar dari kebutuhan impor tersebut berasal dari Malaysia dan Indonesia.

Pada tahun 2019, data  Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan India melakukan pembelian minyak sawit sebanyak 4,4 juta ton atau hampir separuh dari rata-rata total volume impor minyak sawit Malaysia.

Michael menambahkan, penghentian pembelian impor CPO Malaysia oleh India berpotensi memiliki dampak yang positif bagi harga CPO dalam negeri. Hal ini bisa terjadi seiring dengan potensi meningkatnya permintaan CPO dari India.

Terlebih, produksi CPO nasional diperkirakan tidak akan meningkat terlalu pesat dan cenderung landai akibat kemarau yang berkepanjangan pada tahun 2019 lalu.

Kondisi ini, menurut Michael, bisa memperkuat tren postitif harga CPO akibat sentimen program B30 pemerintah yang sudah ada sebelumnya.

Oleh karenanya, emiten sawit yang melakukan penjualan CPO secara keseluruhan di pasar domestik ini optimis bisa meraih berkah dari penghentian importasi CPO Malaysia oleh India. Apalagi, SGRO telah melakukan upaya intensifikasi secara terus menerus sejak tahun lalu untuk menjaga tingkat produksi ketika musim tidak bersahabat di tahun sebelumnya.

“Komitmen intensifikasi yang telah kita pegang dan konsisten dilakukan, itu akan meraih keuntungan pada saat harga melambung tinggi, jadi tahun ini kita cukup optimislah,” kata Michael. Rabu (15/01).

Baca Juga: Produsen CPO memandang India sebagai pasar ekspor yang penting

Kendari demikian, Michael memperkirakan, efek yang demikian hanya bersifat temporer dan tidak berkelanjutan. Menurutnya, tren harga CPO bisa saja kembali terkoreksi oleh mekanisme pasar pada jangka panjang.

Respons yang agak berbeda dijumpai pada emiten sawit lain. Direktur Keuangan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk (ANJT) Lucas Kurniawan enggan memberikan komentar perihal situasi hubungan dagang yang memanas antara Malaysia dan India.

Yang jelas, ia memastikan bahwa industri minyak sawit dalam negeri memiliki prospek yang baik di tahun 2020 akibat adanya tren harga CPO  yang positif.

Pemicu dari tren tersebut tidak lain berasal dari sejumlah katalis positif yang diantarnya meliputi penerapan program biodiesel B30 di Indonesia serta program-program biodiesel di sejumlah negara penghasil sawit lainnya, risiko penurunan produksi di Malaysia, serta kenaikan produksi yang realtif marginal di Indonesia.

ANJT berencana menganggarkan belanja modal atawa capital expenditure (capex) sebesar Rp 600 miliar untuk pemeliharaan tanaman muda yang belum menghasilkan serta untuk mendanai pembangunan lini kedua pabrik kelapa sawit (PKS) di Ketapang. Adapun sumber pendanaan untuk agenda tersebut akan memanfaatkan baik kas internal maupun sumber pendanaan eksternal seperti halnya pinjaman perbankan.

Baca Juga: Indonesia manfaatkan boikot India atas CPO Malaysia

“Grup ANJT tetap melakukan penghematan belanja modal dan tetap fokus pada belanja modal yang bersifat strategis,” Ujar Lucas kepada Kontan.co.id (15/01).




TERBARU

Close [X]
×