Reporter: Adisti Dini Indreswari | Editor: Markus Sumartomjon
JAKARTA. The Blacksteel Group kembali membidik daerah anyar untuk ekspansi usaha. Teranyar, konsorsium bentukan generasi ketiga pendiri Grup Lippo, Michael Riady dengan Isaac Tanihaha itu menggarap proyek mixed-use atau properti terpadu Tanjungpinang City Center di Kepulauan Riau.
Menurut Direktur Pemasaran dan Hubungan Masyarakat Blacksteel Elsye Tanihaha, pihaknya memang fokus membangun daerah yang jarang dilirik pengembang lain. "Potensi Tanjungpinag sangat besar, selama ini masyarakat setempat harus ke Batam kalau mau belanja," ujarnya ke KONTAN, Selasa (16/12).
Adapun proyek Tanjungpinang City Center bakal terdiri dari mal, hotel, dan rumah sakit Siloam dengan luas lahan 2,6 hektare (ha). Blacksteel sudah melakukan peletakan batu pertama proyek ini pada 12 Desember 2014 dan targetnya kelar akhir 2016.
Hingga kini Blacksteel belum menunjuk operator hotel. Namun, pengembang ini memastikan peritel semacam Matahari, Hypermart, dan Electronic City akan menjadi penyewa atau tenant mal. "Yang jelas, hotel didesain sebagai hotel bintang tiga atau empat sesuai dengan permintaan paling banyak di Tanjungpinang," papar Elsye.
Keberadaan Tanjungpinang City Center langsung menambah portofolio proyek Blacksteel, menyusul Ambon City Center dan Ponorogo City Center yang sudah lebih dulu beroperasi.
Di samping itu, ada tiga proyek lain yang berada dalam tahap konstruksi, antara lain di Lombok, Kupang, dan Sorong. Proyek umumnya berupa properti terpadu yang mencakup mal dan hotel. Khusus di Lombok, Blacksteel melengkapinya dengan perumahan, ruko, rukan, dan pusat konvensi.
Menurut Elsye, Blacksteel berambisi menambah paling sedikit lima proyek saban tahunnya. "Tahun depan kami akan memulai proyek di Semarang, Malang, dan Prabumulih," ujarnya. Blacksteel mengklaim sudah mendapat lahan di ketiga kota tersebut.
Untuk setiap proyeknya, Blacksteel menyiapkan investasi sebesar Rp 300 miliar-Rp 500 miliar yang sudah termasuk pembelian lahan. "Kecuali proyek di Lombok bisa menghabiskan dana Rp 1 triliun," imbuh Elsye.
Selain mengerjakan proyek sendiri, Blacksteel juga berminat mengakuisisi mal di Jakarta. Hal itu dilakukan demi memenuhi target bisnis mengelola 30 mal dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Sayang, Elsye enggan membocorkan mal mana yang diincar perusahaan ini, termasuk estimasi nilai investasinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













