Reporter: Mimi Silvia | Editor: Havid Vebri
JAKARTA. Perusahaan furnitur, PT Chitose Internasional Tbk, akan memperluas pasar ekspor. Perusahaan yang memiliki pusat produksi di Cimahi, Bandung, Jawa Barat itu sedang menjajaki potensi pasar baru di Asia.
Fadjar Swatyas, Sekretaris Perusahaan Chitose Internasional, mengungkapkan, ada beberapa negara yang sedang dilihat potensinya. Misalnya, India, Myanmar dan Kamboja. Potensi pasar di sejumlah negara tersebut akan digarap oleh Chitose mulai tahun depan. Harapannya, perluasan pasar ekspor ini bisa memperbesar pendapatannya.
Saat ini, emiten saham berkode CINT ini telah menjual produknya ke Jepang dan Taiwan. Produk unggulan yang diusung CINT ke pasar ekspor antara lain adalah kursi piano merek Rolland.
Total nilai ekspor Chitose sampai dengan semester I-2015 naik sekitar 20,7% menjadi Rp 3,5 miliar. Nilainya relatif kecil dan porsi penjualan ekspor itu juga hanya menopang sekitar 2% terhadap total pendapatan Chitose. Mayoritas kantong perusahaan ini masih diisi hasil penjualan mebel di dalam negeri yang menyetor 98% terhadap total pendapatannya.
Nah, perusahaan ini berharap, pembukaan pasar ekspor baru di India, Myanmar dan Kamboja bisa menaikkan kontribusi ekspor terhadap total pemasukannya. Setidaknya, dalam 3 tahun-5 tahun ke depan, perusahaan ini menargetkan kontribusi ekspor bisa menopang 10% terhadap total pendapatannya.
Asal tahu saja, sampai dengan semester I-2015, CINT mencatatkan pendapatan Rp 163,10 miliar. Angka tersebut naik 13% ketimbang pendapatan pada periode sama tahun lalu yang senilai sekitar Rp 144,2 miliar.
Pendapatan perusahaan ini sebenarnya berpeluang naik lebih tinggi. Namun, penjualan Chitose tergerus oleh retur dan potongan penjualan. Total nilainya mencapai Rp 18,8 miliar atau naik 150% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2014.
Tahun ini, manajemen CINT memasang target pertumbuhan penjualan sebesar 10%-11% ketimbang realisasi penjualan tahun lalu. Oleh karena itu, perusahaan ini akan memacu penjualan mebel di pasar dalam negeri.
Namun upaya tersebut tidak mudah. Sebab, penjualan mebel di pasar dalam negeri sedang berat karena tekanan pelambatan ekonomi serta penurunan daya beli.
Incar belanja instansi
Itu sebabnya, selain menjajaki potensi pasar ekspor baru, CINT bersiasat untuk memaksimalkan potensi pasar lokal. "Sampai akhir tahun ini, kami membenahi internal dulu" kata Fajar kepada KONTAN, Minggu (25/10).
Perusahaan ini mengandalkan dua bekal untuk memacu penjualan di pasar dalam negeri. Pertama, CINT lebih fokus menetapkan sasaran pasarnya. Salah satunya, membidik peluang furnitur untuk kebutuhan proyek pemerintah. Menurut Fadjar, setiap kuartal terakhir, pesanan furnitur dari instansi pemerintah cenderung naik.
Bekal kedua adalah ekspansi produk baru. Selama ini, perusahaan tersebut mengandalkan penjualan mebel merek Chitose. Kini, perusahaan itu memiliki produk baru buatan anak usahanya, PT Okamura Chitose Indonesia.
Okamura Chitose adalah perusahaan patungan Chitose dan Okamura Corp dari Jepang yang berdiri April 2015. Produknya menyasar segmen upper dan high end, dan ditargetkan bisa menopang Rp 25 miliar di tahun pertamanya beroperasi.
Fadjar menyebutkan, saat ini Okamura Chitose sedang bernegosiasi dengan dua pebisnis di Indonesia. Namun dia merahasiakan detil negosiasi itu. "Soal ini belum bisa kami ekspose," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













