kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.711.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.818   -194,00   -1,08%
  • IDX 6.008   121,62   2,07%
  • KOMPAS100 794   18,85   2,43%
  • LQ45 597   10,61   1,81%
  • ISSI 206   5,10   2,54%
  • IDX30 339   4,60   1,38%
  • IDXHIDIV20 418   3,54   0,86%
  • IDX80 90   1,96   2,24%
  • IDXV30 113   2,76   2,50%
  • IDXQ30 109   1,12   1,03%

Coca-cola Memilih Menghemat Biaya Produksi daripada Menaikkan Harga


Kamis, 14 Januari 2010 / 10:03 WIB


Reporter: Nadia Citra Surya |

JAKARTA. Lonjakan harga minyak mentah yang telah mencapai kisaran US$ 80 per barel mulai membawa dampak buruk bagi pengusaha. Industri air minum dalam kemasan telah merasakannya. Soalnya, harga minyak mentah sangat mempengaruhi harga kemasan plastik air minum kemasan.

Kini, para pengusaha air minum dalam kemasan sedang mengkaji kemungkinan untuk menaikkan harga produk mereka. Sebab, komponen biaya kemasan dalam produksi air minum kemasan mencapai sekitar 70% dari total biaya produksi.

Cuma, beberapa produsen mengaku, menaikkan harga jual AMDK merupakan opsi terakhir pengusaha. PT Coca-Cola Indonesia misalnya berusaha mengurangi bobot material kemasan dan lebih mengutamakan desain kemasan agar tetap kuat. Dengan mengurangi bobot material, mereka bisa menghemat biaya produksi.

Strategi lainnya adalah membuat kontrak jangka panjang dengan pemasok kemasan. "Sehingga, kami bisa terhindar dari risiko terimbas fluktuasi harga bahan baku," kata Juru Bicara Coca-Cola Indonesia Arif Mujahidin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Berita Terkait



TERBARU
Kontan Academy
Langganan Business Insight Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×