kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45928,35   -6,99   -0.75%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Dampak gugur daun pohon karet terhadap kinerja Bakrie Sumatera Plantations (UNSP)


Senin, 03 Februari 2020 / 21:45 WIB
Dampak gugur daun pohon karet terhadap kinerja Bakrie Sumatera Plantations (UNSP)
ILUSTRASI. Wabah gugur daun karet tidak berdampak besar ke kebun karet Bakrie Sumatera Plantations (UNSP).


Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten sawit PT Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) mengakui dampak wabah gugur daun karet atau pestalotiopsis tidak signifikan ke perusahaan di 2019. 

"Dampak jamur ke pohon karet milik perusahaan hanya mempengaruhi 5%  dari budget full year 2019," jelas Investor Relation and Director UNSP Andi W Setianto, Senin (3/2). 

Andi menjelaskan wabah gugur daun akibat jamur membuat pencapaian perusahaan menjadi 95% aktual dari budget sepanjang 2019. 

Dari paparan publiknya di Desember 2019, UNSP memiliki 16.532 hektare (ha) kebun karet tertanam. Adapun 94% kebun atau 15.560 ha pohon karetnya sudah menghasilkan sehingga memasuki kategori dewasa (mature). 

Kemudian, sekitar 5% kebun atau 822 ha pohon karetnya belum menghasilkan (immature) dan sisanya 1% atau 150 ha sedang di replanting (peremajaan).   Adapun di sepanjang 2020 ini, Bakrie Sumatera telah menyiapkan belanja modal hingga Rp 150 miliar untuk pengembangan bisnis hulu (upstream) sawit dan replanting.   

Andi menjelaskan, perusahaan akan meningkatkan dan mengoptimalkan sistem. Seperti manajemen air, usia tanaman, hama, dan lainnya. Selain itu, capex juga digunakan untuk meningkatkan kualitas infrastruktur baik itu produksi maupun fasilitas pendukung. 

Selain itu, UNSP juga berencana mengkonversi tanaman karet yang usianya sudah di atas 25 tahun atau masuk kategori tua untuk diganti dengan sawit, tebu, atau tanaman lainnya.

Tak heran jika UNSP masih fokus pada inti bisnisnya di sawit karena kontribusinya masih mendominasi ke penjualan perusahaan. Melansir laporan keuangannya di kuartal III 2019, UNSP membukukan penjualan konsolidasi sebesar Rp 1,42 triliun. Adapun Sawit dan turunnya berkontribusi sebesar Rp 728,36 miliar. 

Selain ekspansi di hulu, tentu perusahaan juga akan giat mengembangkan hilir (downstream) yang memproduksi Oleokimia. Andi menyatakan perusahaan akan meningkatkan utilisasi plant oleokimia yang ada.

"Rencananya bakal dimaksimalkan dari sebelumnya utilisasi produksi acid baru 75% dan alkohol baru 65% akan menjadi 100% di akhir 2020," kata Andi.  

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×