kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.850.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.923   27,00   0,16%
  • IDX 7.164   -138,03   -1,89%
  • KOMPAS100 989   -24,52   -2,42%
  • LQ45 732   -14,72   -1,97%
  • ISSI 252   -6,20   -2,41%
  • IDX30 398   -8,38   -2,06%
  • IDXHIDIV20 499   -11,65   -2,28%
  • IDX80 112   -2,43   -2,13%
  • IDXV30 136   -1,81   -1,31%
  • IDXQ30 130   -3,03   -2,28%

Dampak Konflik Global, Penjualan Ritel Indonesia Terancam Lesu hingga Kuartal III


Kamis, 26 Maret 2026 / 17:51 WIB
Dampak Konflik Global, Penjualan Ritel Indonesia Terancam Lesu hingga Kuartal III
ILUSTRASI. Konsumen berbelanja di jaringan minimarket di Jakarta (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Konflik Timur Tengah yang melibatkan Israel-Amerika Serikat (AS) dan Iran menekan berbagai industri domestik, tak terkecuali sektor ritel.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan bahwa tren penjualan ritel Tanah Air umumnya memasuki musim rendah (low season) pasca basis yang tinggi di momentum Idulfitri. 

Pada tahun 2026 ini, dia memperkirakan penurunan penjualan ritel berpotensi lebih panjang hingga kuartal ketiga. Selain karena Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal di kuartal pertama, ketidakpastian global imbas konflik Timur Tengah juga membayangi ritel nasional.

Baca Juga: Peruri Tekankan Pembelian e-Meterai Hanya Lewat Distributor Resmi

"Ritel berpotensi mendapat tekanan yang lebih dalam akibat dampak perang di Timur Tengah, sehingga kuartal kedua dan ketiga dapat menjadi low season yang panjang dan dalam," kata Alphonzus kepada Kontan, Kamis (26/3/2026).

Menurutnya, saat ini pemerintah harusnya dapat memprioritaskan perdagangan dalam negeri agar kinerja ritel ke depan tak begitu tergantung pada ketidakpastian global. Hal ini, lanjutnya, guna menghindari ataupun meminimalkan dampak perang di Timur Tengah yang tidak menentu. Fokus pada perdagangan domestik di tengah krisis, kata Alphonzus, mampu dilakukan pada saat pandemi Covid-19.

"Langkah ini sebagaimana yang telah kita lakukan pada saat pandemi. Pada saat itu kondisi perekonomian Indonesia relatif lebih baik dari banyak negara lain, lantaran perdagangan dalam negeri yang relatif kuat, dengan pasar dalam negeri yang masih besar," imbuh dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×