Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat defisit neraca perdagangan sektor minyak dan gas (migas) periode Januari - Mei 2026 telah menembus US$ 12,28 miliar. Defisit neraca perdagangan migas terdongkrak oleh nilai impor yang melonjak akibat lonjakan harga minyak global.
Defisit neraca perdagangan migas naik sekitar 59% dibandingkan periode Januari - Mei 2025, yang kala itu tercatat sebesar US$ 7,72 miliar. Kenaikan defisit ini sejalan dengan nilai impor migas yang menanjak 27,89% dari US$ 13,64 miliar menjadi US$ 17,45 miliar pada Januari - Mei 2026.
Pada bulan Mei 2026, nilai impor migas melejit 70,78% secara year on year (yoy) dari US$ 2,64 miliar pada Mei 2025 menjadi US$ 4,51 miliar. Hasil ini membuat defisit sektor migas menembus US$ 3,76 miliar, yang menyebabkan neraca perdagangan bulan Mei 2026 mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar, memutus tren surplus selama 72 bulan beruntun.
Baca Juga: PRISM Luncurkan Hotel Sunday Kedua di Jababeka, Sasar Segmen Business Travel
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengungkapkan bahwa defisit neraca perdagangan pada bulan Mei 2026 terutama disebabkan oleh defisit pada komoditas migas, lantaran sektor non-migas masih surplus sebesar US$ 2,15 miliar. "Penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan dari minyak mentah," kata Ateng dalam rilis BPS pada Rabu (1/7/2026).
BPS mencatat bahwa nilai impor migas meningkat 27,8% secara kumulatif (c-to-c) dari US$ 13,64 miliar menjadi US$ 17,44 miliar pada periode Januari - Mei 2026. Terdiri dari impor minyak mentah senilai US$ 4,13 miliar dan hasil minyak sebesar US$ 13,31 miliar. Masing-masing meningkat 14,9% dan 32,54% (c-to-c).
Ateng membeberkan bahwa impor migas terbesar Indonesia berasal dari Singapura dengan nilai US$ 5,1 miliar atau sekitar 29,38% terhadap total impor migas pada Januari - Mei 2026. Disusul oleh Malaysia dengan nilai US$ 3,6 miliar, serta Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 1,4 miliar.
"Tidak ada perubahan negara asal impor migas jika dibandingkan dengan 2025 lalu. Hanya saja, khususnya untuk minyak mentah, ini dari Brazil menjadi peringkat keempat pada Januari - Mei 2026," ujar Ateng.
Ateng memberikan catatan, lonjakan nilai impor migas ini tidak berbanding lurus dengan kenaikan volume impornya. Dia menggambarkan bahwa nilai impor migas Januari - Mei 2026 naik 27,89% (c-to-c), namun total volume impor hanya naik sekitar 5,60%.
Pada periode yang sama, nilai impor hasil minyak naik 32,54%, namun volume impor hanya naik 5,02%. Pada minyak mentah, nilai impor naik 14,90%, sedangkan volume impor justru turun 6,99%.
Pada bulan Mei, nilai impor migas naik 70,8% (yoy), tapi kenaikan volumenya hanya 7,28%. Nilai impor hasil minyak naik 99,49%, tapi secara volume hanya naik 13%. Pada minyak mentah, nilai impor turun 4,06%, sedangkan volumenya turun sebanyak 51,49%.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Genjot Produk Obat Kronis & Suplemen untuk Dukung Pertumbuhan 2026
Dampak Lonjakan Harga Minyak
Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas) Moshe Rizal mengungkapkan bahwa data BPS menunjukkan defisit neraca perdagangan di sektor migas lebih disebabkan oleh laju kenaikan harga minyak dunia yang terjadi hingga Mei 2026. "Ini karena harga beli, tekanan dari harga global, karena Indonesia kan net importir," kata Rizal saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (2/7/2026).
Rizal menambahkan, lonjakan volume impor secara signifikan dalam waktu cepat sulit terjadi. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari kesepakatakan kontrak jual-beli, waktu pengiriman, serta ketersediaan fasilitas penyimpanan (storage).
"Dari sisi storage, Indonesia juga kan terbatas. Jadi nggak mungkin langsung tiba-tiba (volume impor) naik drastis mau itu minyak mentah, BBM atau LNG. Nggak mungkin kita beli berlebihan, mau disimpan dimana kalau impor terlalu banyak," ujar Rizal.
Pengamat Migas dan Dewan Penasihat Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Hadi Ismoyo turut menyoroti tren kenaikan harga minyak sebagai pendongkrak defisit impor migas hingga Mei 2026. Pada periode tersebut, rata-rata terjadi kenaikan harga sekitar 57% dari level US$ 70 per barel menjadi sekitar US$ 110 per barel.
Apalagi, sebagian transaksi terjadi melalui pasar spot yang kadang mencapai batas harga maksimal di rentang US$ 100 - US$ 130 per barel. "Sedangkan kalau dilihat dari demand dalam negeri relatif konstant, maka hampir tidak ada atau hanya sedikit sekali penambahan volume konsumsi," kata Hadi.
Di sisi lain, Hadi menyoroti upaya pemerintah untuk mempercepat pengadaan minyak demi mengamankan pasokan dan ketersediaan di dalam negeri. Tetapi, upaya tersebut masih memerlukan waktu untuk bisa tercapai. "Pemerintah memang mendorong untuk peningkatan pengadaan minyak, namun supply di market tidak mudah untuk mendapatkannya," ujar Hadi.
Ekonom & Manajer Riset Strategis Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet sepakat kenaikan harga menjadi pendorong utama peningkatan defisit neraca perdagangan di sektor migas. Dia menyoroti pergerakan Indonesian Crude Price (ICP) yang rata-rata mencapai US$ 91,86 per barel selama Januari - Mei 2026, naik sekitar 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Kimia Farma (KAEF) Kejar Kinerja Naik High Single Digit di 2026, Ini Strateginya
"Sementara itu, nilai impor migas naik 27,89% secara tahunan. Kenaikan keduanya yang hampir sejalan menunjukkan bahwa faktor harga menjadi pendorong utama, sedangkan volume impor relatif tidak banyak berubah," ungkap Yusuf.
Yusuf memberikan catatan, impor hasil minyak tidak hanya mencakup Bahan Bakar Minyak (BBM) saja. Impor hasil minyak juga meliputi produk non-BBM seperti pelumas, nafta, aspal dan bahan baku petrokimia.
Outlook Impor Migas di Sisa 2026
Dalam jangka pendek, Yusuf menilai kondisi ini masih tergolong wajar karena Indonesia merupakan negara net importir, sehingga sangat sensitif terhadap kenaikan harga minyak dunia. Tetapi, situasi ini kembali menunjukkan persoalan struktural yang belum terselesaikan.
Yusuf menyoroti produksi minyak nasional masih sekitar 576.000 barel per hari, sementara konsumsi mencapai 1,4 juta - 1,7 juta barel per hari. "Selama kesenjangan ini masih besar, setiap kenaikan harga minyak akan langsung menekan neraca perdagangan dan APBN. Tidak mengherankan jika defisit perdagangan pada Mei 2026 mengakhiri surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut," tegas Yusuf.
Pada sisa tahun 2026, Yusuf memandang prospek neraca perdagangan migas berpeluang membaik karena harga minyak mulai turun setelah sempat mencapai puncaknya pada kuartal pertama. Sejumlah lembaga juga memperkirakan harga Brent akan terus melandai hingga akhir tahun.
Dengan proyeksi tersebut, nilai impor migas dan defisitnya kemungkinan ikut mengecil. "Meski begitu, saya belum melihat defisit migas akan berbalik menjadi surplus karena persoalan utamanya tetap berada pada ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak. Risiko juga masih terbuka apabila ketegangan geopolitik kembali meningkat sehingga harga minyak kembali melonjak," ujar Yusuf.
Baca Juga: Ini Daftar Harga Mineral Logam Acuan (HMA) pada Periode Pertama Juli 2026
Sedangkan Hadi menyoroti harga minyak dunia yang sudah terjun kembali ke level US$ 70 per barel, seiring dengan nota perdamaian antara AS dan Iran. Pasokan 20 juta crude yang tertahan akan memasuki pasar dunia, sehingga pasokan minyak akan kembali normal.
"Harga crude dunia turun, sehingga estimasi kami, enam bulan ke depan perdagangan migas akan sesuai dengan estimasi awal dan tidak terjadi defisit lagi. Semoga tidak ada kejadian abnormal dalam sisa perundingan Iran vs AS," ungkap Hadi.
Sementara itu, Rizal menyoroti bahwa mitigasi jangka pendek yang mesti dilakukan adalah memperkuat ketahanan fiskal pemerintah. Sebab, mengurangi impor dengan menaikkan volume produksi minyak nasional merupakan solusi jangka panjang.
Di sisi lain, Rizal mengingatkan kondisi geopolitik global, terutama eskalasi konflik di Timur Tengah masih dibayangi ketidakpastian. "Situasi di luar sana masih nggak pasti, jadi penurunan (nilai impor dan defisit neraca perdagangan migas) belum tentu bisa sustain," terang Rizal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














