kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.751   56,37   0,99%
  • KOMPAS100 746   10,46   1,42%
  • LQ45 567   9,87   1,77%
  • ISSI 199   0,89   0,45%
  • IDX30 321   5,68   1,80%
  • IDXHIDIV20 396   7,04   1,81%
  • IDX80 85   1,30   1,56%
  • IDXV30 108   1,35   1,27%
  • IDXQ30 104   1,59   1,56%

Diserbu asing, industri komponen lokal ambruk


Jumat, 15 Juli 2016 / 17:33 WIB


Reporter: Dian Sari Pertiwi | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Industri komponen otomotif tertekan dengan masuknya para pemodal asing di pasar dalam negeri. Setidaknya, sebanyak 11 perusahaan komponen otomotif skala kecil menengah harus menutup usahanya.

Rosalina Faried, Ketua Perhimpunan Industri Kecil dan meengah Komponen Otomotif (PIKKO) menyebutkan, teknologi para pemodal asing sudah lebih canggih dari perusahaan lokal.

"Harga tidak bisa kompetitif karena perusahaan asing membawa teknologi otomatisasi. Sedangkan perusahaan lokal masih padat karya," katanya kepada KONTAN, Kamis (14/7).

Meski para perusahaan asing ada yang berskala UKM, tapi teknologi mereka sudah jauh di depan UKM Indonesia. Terbatasnya modal dan akses perusahaan skala kecil ini terhadap perusahaan besar, membuat mereka terpaksa gulung tikar.

Faktor lain yang ikut menekan industri komponen lokal adalah kurangnya tenaga sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Sebab, tak jarang perusahaan komponen otomotif kesulitan menemukan lulusan SMK yang mengerti cara mengoperasikan dan merawat mesin CNC dan mesin bubut. 

Alih-alih menciptakan teknologi baru agar proses produksi bisa lebih efektif, efisien dan menekan biaya operasional, industri komponen lokal kesulitan mengembangkan usahanya.

Dadi Siswaya, Pemiliki PT Aristo Satria Mandiri Indonesia mengatakan, pihaknya kerap kesulitan mendapatkan pasokan SDM lulusan SMK yang bisa diandalkan untuk proses produksi dan merakit mesin seperti CNC dan bubut.

"Saya sudah berkomunikasi dengan pemerintah terkait massalah ini. Tapi, belum ada kelanjutannya, karena jurusan teknik mesin untuk mesin produksi masih jarang. Lebih banyak lulusan teknik mesin yang siap bekerja di industri otomotif, bukan di industri komponennya," keluh Dadi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×