Reporter: Dina Mirayanti Hutauruk | Editor: Dina Hutauruk
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT BUMA International Group Tbk (DOID) mencatat pertumbuhan EBITDA sepanjang semester I-2026 meski pendapatan menurun, didukung oleh peningkatan efisiensi operasional, disiplin alokasi modal, dan optimalisasi pengelolaan aset. Hasil ini menegaskan keberhasilan strategi transformasi dalam memperkuat profitabilitas dan ketahanan bisnis.
Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, DOID mencetak pendapatan sebesar US$ 692,8 juta, turun dari US$ 730,2 juta pada paruh pertama 2025. Namun, EBITDA tercatat naik 8% secara tahunan menjadi US$ 69 juta.
Jika tidak memasukkan dampak kenaikan harga bahan bakar, EBITDA akan mendekati US$ 78 juta, menunjukkan bahwa sebagian manfaat dari kemajuan operasional tertutupi oleh dinamika biaya yang berada di luar kendali Grup. Rugi bersih perseroan pun tercatat susut dari US$ 80 juta menjadi US$ 50 juta.
Iwan Fuad Salim, Direktur BUMA International Group, mengatakan peningkatan EBITDA, perbaikan margin, dan penguatan arus kas bebas mencerminkan hasil dari berbagai inisiatif yang dijalankan perusahaan selama setahun terakhir.
Langkah tersebut mencakup perbaikan di area operasional, optimalisasi tenaga kerja, serta pemeliharaan aset. “Capaian tersebut diraih meski perusahaan menghadapi penurunan pendapatan dan lonjakan harga bahan bakar yang signifikan,” kata dia dalam keterangannya, Minggu (2/8/2026).
Baca Juga: Buma (DOID) Fokus Pemulihan Kinerja Bertahap, Kejar Pendapatan Hingga US$ 1,3 Miliar
Ia menambahkan, kinerja operasional terus membaik sepanjang kuartal II, tercermin dari meningkatnya keandalan armada, produktivitas yang lebih tinggi, serta kenaikan volume produksi.
Iwan menyebut, operasional DOID di Indonesia menunjukkan perbaikan pada aspek keandalan, utilisasi, dan produktivitas sepanjang kuartal II 2026. Ketersediaan fisik (physical availability) armada meningkat baik secara kuartalan maupun dibandingkan periode yang sama tahun lalu, dengan lebih dari separuh armada mencatatkan tingkat ketersediaan di atas 90%.
Iwan menyebut hal itu ditopang oleh penurunan waktu henti (downtime) sebesar 11% secara cuártala dan 22% secara tahunan, seiring kepatuhan terhadap pemeliharaan terjadwal yang naik menjadi 46% dari 25% pada kuartal II 2025.
Kinerja pemeliharaan juga membaik. Mean time between stops (MTBS) meningkat 22% QoQ dan 20% secara tahunan, sedangkan mean time to repair (MTTR) turun 18% QoQ dan 6% menjadi 7,5 jam.
Peningkatan keandalan armada turut mendorong utilisasi. Jam kerja per unit naik 17% secara kuartalan, sehingga tingkat operasi armada kembali sejalan dengan level kuartal II 2025. Kondisi ini didukung penurunan jam nonproduktif 6% secara tahunan, antara lain karena musim kemarau yang mengurangi gangguan cuaca serta terselesaikannya sejumlah kendala di area pembuangan, jalan angkut, dan kondisi geologi.
Kinerja operasional Grup membaik pada kuartal II 2026, ditopang efisiensi operasional di lokasi tambang terbesar di Indonesia. Perbaikan kondisi jalan angkut, pengelolaan lalu lintas, dan koordinasi dispatch yang lebih efektif memangkas cycle time sebesar 4% dibandingkan kuartal II 2025.
Baca Juga: Fondasi Lebih Kuat, Buma Internasional (DOID) Targetkan Pemulihan Kinerja Tahun Ini
Perbaikan tersebut mendorong volume pengupasan lapisan tanah penutup naik 10% secara kuartalan menjadi 97 juta BCM dan produksi batu bara meningkat 20% menjadi 17 juta ton.
Di sisi biaya, kenaikan biaya per BCM terutama dipicu lonjakan harga bahan bakar, sementara konsumsi bahan bakar per BCM justru menurun berkat efisiensi operasional. Perseroan juga mencatat penurunan biaya tenaga kerja serta normalisasi biaya perbaikan dan pemeliharaan, yang turut meningkatkan keandalan armada.
Secara semester I 2026, volume overburden removal turun 11% menjadi 186 juta BCM dan produksi batu bara turun 16% menjadi 32 juta ton akibat berakhirnya sejumlah kontrak dan penurunan aktivitas di beberapa lokasi tambang.
Meski demikian, di luar lokasi yang terdampak, operasi inti Grup masih mencatat pertumbuhan sekitar 9% untuk overburden removal dan 4% untuk produksi batu bara, didukung peningkatan keandalan armada dan cuaca yang lebih kondusif.
Belanja modal (capex) DOID pada semester I 2026 turun 67% secara tahunan menjadi US$ 37 juta, didorong oleh optimalisasi penggunaan armada dan pemanfaatan aset dari lokasi tambang yang telah berhenti beroperasi. Sebagian besar capex dialokasikan untuk pemeliharaan armada guna menjaga keandalan operasional.
Di sisi lain, arus kas bebas (free cash flow) meningkat signifikan menjadi US$ 39 juta, dibandingkan US$ 5 juta pada semester I-2025. Peningkatan ini ditopang oleh pemulihan EBITDA dan penurunan belanja modal.
Memasuki semester II, Iwan mengatakan perseroan akan fokus mempertahankan momentum operasional, menjaga disiplin biaya dan belanja modal, serta mengelola eksposur terhadap fluktuasi harga bahan bakar guna memperkuat arus kas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
