Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Ancaman gangguan produksi mulai membayangi industri pengolahan nikel di Indonesia seiring berkurangnya ketersediaan air akibat fenomena El Nino. Kondisi ini terutama menjadi perhatian bagi smelter yang membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk menopang proses produksi maupun pembangkit listrik.
Melansir pemberitaan Bloomberg, sejumlah perusahaan yang beroperasi di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) diminta mengurangi produksi nickel pig iron (NPI) karena keterbatasan pasokan air. NPI sendiri merupakan salah satu bahan baku yang digunakan dalam produksi stainless steel.
Ketua Umum Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdanakusuma mengatakan, pihaknya juga menerima laporan mengenai sejumlah proyek pengolahan dan pemurnian nikel yang mulai mengalami penurunan produksi akibat fenomena El Nino tahun ini.
Menurut Arif, air menjadi salah satu komponen penunjang yang sangat vital bagi industri nikel, baik untuk proses pengolahan dengan jalur pirometalurgi maupun hidrometalurgi.
Pada jalur pirometalurgi, kebutuhan air terutama digunakan dalam sistem pendinginan atau cooling system. Pasokan air diperlukan secara konstan untuk mendinginkan dinding furnace guna mencegah risiko keretakan hingga ledakan.
Baca Juga: Implementasi B50 Butuh CPO Sekitar 18 Juta Ton pada 2027, Ekspor Sawit Bakal Turun
Selain itu, terak atau slag cair hasil peleburan yang memiliki suhu tinggi disemprot menggunakan air bertekanan tinggi agar dapat segera membeku dan pecah menjadi butiran kecil (granular). Proses tersebut memudahkan terak untuk diolah maupun ditempatkan.
"Sementara pada jalur pirometalurgi, air juga digunakan pada sistem scrubber untuk menangkap debu, partikel halus, dan gas dari cerobong asap sebelum dilepas ke lingkungan," kata Arif kepada Kontan, Senin (28/9/2026).
Kebutuhan air pada jalur hidrometalurgi bahkan disebut jauh lebih besar dibandingkan pirometalurgi. Pasalnya, air menjadi media utama dalam berbagai tahapan proses, mulai dari pelarutan dan reaksi kimia, pencucian, pemisahan logam, hingga pengenceran.
"Jalur hidrometalurgi seperti teknologi High Pressure Acid Leaching (HPAL) mengolah bijih limonit kadar rendah menjadi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) untuk bahan baku baterai," jelas Arif.
Di sisi energi, Arif menjelaskan bahwa smelter nikel pada umumnya juga ditopang pembangkit listrik mandiri atau captive power plant, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang memanfaatkan batubara.
Turbin uap pada PLTU tersebut membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar untuk menghasilkan uap yang digunakan sebagai pendorong turbin. Air juga diperlukan dalam proses pendinginan kondensor pembangkit listrik.
Sementara itu, sejumlah kawasan industri nikel mulai memanfaatkan atau tengah melakukan transisi menuju Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) sebagai bagian dari upaya memenuhi kebutuhan energi yang lebih bersih.
Baca Juga: Harga Minyak Global di Atas US$ 100, Pertamina Beri Tekanan ke BBM Non Subsidi
Namun, kondisi kemarau panjang berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pembangkit berbasis tenaga air. Penurunan debit air sungai maupun danau dapat menekan kapasitas produksi listrik PLTA secara drastis.
Menurut Arif, fenomena El Nino tahun ini menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih panjang, terutama di sejumlah wilayah Sulawesi dan Maluku Utara yang menjadi sentra industri pengolahan nikel.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat perhitungan pasti mengenai dampak El Nino terhadap volume produksi nikel maupun nilai ekspor komoditas tersebut sepanjang tahun ini. Hal tersebut disebabkan karakteristik dan kondisi setiap proyek pengolahan dan pemurnian nikel berbeda.
"Masing-masing proyek pengolahan dan pemurnian mengalami dampak dan tingkatan yang berbeda-beda, tergantung lokasi, kebutuhan air, ketersediaan sumber air dan lain-lain," tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














