kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45789,76   5,21   0.66%
  • EMAS938.000 0,11%
  • RD.SAHAM -0.36%
  • RD.CAMPURAN -0.47%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.07%

Energy Watch: Kenaikan harga gas industri itu wajar


Kamis, 31 Oktober 2019 / 23:40 WIB
Energy Watch: Kenaikan harga gas industri itu wajar
ILUSTRASI. Petugas menyiapkan Meter Regulator Station (MRS) untuk penyaluran gas di stasiun induk PT Java Energy Semesta di Gresik, Jawa Timur, Selasa (16/10/2018). PT Gagas Energi Indonesia, anak perusahaan PT PGN, Tbk menjalin kerja sama dengan PT Java Energy Seme

Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana kenaikan harga gas industri sebetulnya tidak perlu dibatalkan. Sebab, harga gas industri sudah tujuh tahun tidak naik. Harga gas industri juga masih lebih murah dibanding harga gas rumah tangga.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Energy Watch Mamit Setiawan menanggapi penundaan rencana kenaikan harga gas industri oleh Kementerian ESDM.

Baca Juga: Inilah data-data mengapa harga gas mesti naik, dari 2013 tidak pernah naik!

Seperti diketahui, Rabu (30/10) kemarin, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) berkirim surat ke Presiden yang isinya menolak rencana kenaikan harga gas industri. Surat tersebut sepertinya menjadi pertimbangan pemerintah untuk menunda rencana kenaikan.

“Sebetulnya, kenaikan harga gas industri itu wajar karena beban Badan Usaha Hilir Gas sudah berat. Toh, harga gas di hulu sudah naik juga. Ingat juga, harga gas industri masih lebih murah dibandingkan harga gas rumah tangga," ujar Mamit Setiawan dalam keterangannya, Kamis (31/10).

Menurutnya, beban harga gas, pembangunan infrastruktur jaringan gas, dan harga gas bumi hilir, merupakan harga agregasi. Yakni, dari berbagai harga pasokan gas bumi.

Baca Juga: Harga gas industri batal naik, begini tanggapan pengusaha keramik dan kimia dasar

Serta biaya infrastruktur penyaluran gas bumi dari lokasi produsen sampai ke konsumen akhir. Di mana 71% dari harga gas hilir berasal dari harga gas hulu.

Mamit menambahkan, saat ini harga gas industri di Singapura jauh lebih mahal dibanding Indonesia. Jadi, sudah selayaknya kenaikan harga gas itu.

"Gas industri hanya Rp4.000/m3. Sementara harga gas rumah tangga sekitar Rp6.000/m3. Jadi, rasanya tak adil. Mestinya Kadin lebih bijak," tegasnya.

Baca Juga: Harga gas industri lebih murah dibandingkan harga gas rumah tangga

Menurut Mamit, laba Badan Usaha Hilir Gas terus tergerus karena sudah tujuh tahun tidak menaikkan harga gas industri.

Apalagi, Badan Usaha Hilir Gas harus memperhitungan pembangungan infrastruktur jaringan gas yang menjangkau ke banyak daerah. Ini tidak mudah dan membutuhkan investasi besar. Belum termasuk biaya perawatan dan pemeliharaan fasilitas milik Badan Usaha Hilir Gas.

"Untuk semua investasi itu, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengembalikan biaya investasi tersebut," tuturnya. 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×