kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.954.000   14.000   0,48%
  • USD/IDR 16.830   2,00   0,01%
  • IDX 8.132   99,86   1,24%
  • KOMPAS100 1.146   13,97   1,23%
  • LQ45 829   8,49   1,03%
  • ISSI 288   4,60   1,62%
  • IDX30 431   4,26   1,00%
  • IDXHIDIV20 519   5,74   1,12%
  • IDX80 128   1,62   1,28%
  • IDXV30 141   1,99   1,43%
  • IDXQ30 140   1,49   1,07%

Gapmmi: Kenaikan impor gandum 4% masih terbilang stagnan


Selasa, 24 Juli 2018 / 20:28 WIB
Gapmmi: Kenaikan impor gandum 4% masih terbilang stagnan
ILUSTRASI. Pabrik PT Bungasari Flour Mills


Reporter: Tane Hadiyantono | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan impor gandum-ganduman 4% pada semester pertama 2018 dinilai pengusaha sebagai lonjakan yang stagnan.

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), impor gandum-ganduman pada periode Januari-Juni 2018 telah mencapai 5,97 juta ton atau setara US$ 1,73 miliar. Catatan ini naik 4% dibandingkan periode sama tahun lalu di 5,74 juta ton atau setara 1,35 miliar.

Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman (Gapmmi) Sribugo Suratmo, menjelaskan dari sisi produksi makanan dan minum berjalan stagnan dan tidak ada lonjakan yang berarti. Oleh karena itu, kenaikan impor gandum-ganduman sebesar 4% dinilai stagnan.

"Impor naik 4% itu stagnan, kalau naik 10-15% baru berarti. Kalau sekarang produksi juga stagnan tidak ada kenaikan dan pabrik mendapatkan pasokan gandum cukup karena sesuai kontrak pembelian," jelasnya saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (24/7).

Adapun kebutuhan tepung terigu nasional tahun ini menurutnya bisa mencapai 6 juta ton. Sribugo melanjutkan, pada lebaran lalu tingkat konsumsi sempat naik dan direspon baik oleh pengusaha makanan dan minuman.

Kemudian agenda berikutnya yang bisa jadi momentum kenaikan produksi tepung adalah pada natal dan akhir tahun nanti.

"Natal nanti peak season, dan kita lihat tidak ada kekhawatiran pada tingkat konsumsi karena nanti tidak akan berdekatan dengan kepentingan konsumen yang bisa kurangi daya beli," jelasnya.

Adapun kepentingan konsumen lain yang ia maksud adalah momentum masuk sekolah yang biasa jadi alasan masyarakat menahan pembelian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×