kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.997.000   -24.000   -0,79%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.137   -224,90   -3,05%
  • KOMPAS100 989   -32,34   -3,17%
  • LQ45 728   -22,86   -3,04%
  • ISSI 249   -9,93   -3,83%
  • IDX30 392   -8,64   -2,16%
  • IDXHIDIV20 487   -9,80   -1,97%
  • IDX80 111   -3,58   -3,12%
  • IDXV30 132   -2,45   -1,82%
  • IDXQ30 127   -2,57   -1,99%

Geopolitik Timteng Memanas,Wamendag Ungkap Cara Antisipasi Gejolak Perdagangan Global


Minggu, 15 Maret 2026 / 16:14 WIB
Geopolitik Timteng Memanas,Wamendag Ungkap Cara Antisipasi Gejolak Perdagangan Global
ILUSTRASI. Kondisi Geopolitik Timteng Memanas, Wamendag Ungkap Cara Antisipasi Gejolak Perdagangan Global (Dok/Kemendag)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kondisi geopolitik Amerika Serikat (AS)-Israel dengan Iran tak kunjung usai, menyebabkan sejumlah pasokan perdagangan global juga akan terganggu. Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Esti Widya Putri turut mengungkapkan antisipasinya.

Dyah Roro mengatakan bahwa Indonesia saat ini tengah berkomitmen dalam penguatan ekonomi ASEAN. Dyah Roro mengungkapkan hal itu ketika dirinya hadir dalam Pertemuan ke-32 Menteri Ekonomi ASEAN Retreat (32nd AEM Retreat) di Taguig, Filipina, Jumat (13/3/2026). 

"Kesempatan ini menjadi peluang tepat bagi negara anggota ASEAN untuk menguatkan respons kolektif melalui resillience without retreat dalam menghadapi tekanan global. Respons ini menekankan pentingnya bersama-sama menghadapi fragmentasi geoekonomi dan disrupsi rantai pasok, dengan menyusun kebijakan yang mengedepankan keamanan ekonomi anggota ASEAN,” ujar Dyah Roro dalam keterangan tertulis, Minggu (15/3/2026).

Baca Juga: Indonesia Tanggapi Investigasi Perdagangan AS terhadap 16 Mitra Dagang

Menurutnya, dalam kondisi geopolitik sekarang, perkembangan makro global ASEAN akan terganggu. Salah satu yang terganggu yakni tekanan geopolitik dan energi di Timur Tengah yang mengakibatkan kenaikan harga energi dunia, serta berdampak pada negara ASEAN yang memiliki ketergantungan pasokan produk bahan bakar mineral dari Timur Tengah.

Selain itu, dinamika penerapan kebijakan perdagangan Amerika Serikat (AS) berpotensi mengganggu perdagangan dan rantai pasok global. Roro mengatakan ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi gejolak tantangan global mendatang.

Salah satu antisipasi Indonesia dan beberapa negara ASEAN yakni melakukan upaya negosiasi dengan AS, namun tetap dibutuhkan respons kolektif bersama ASEAN untuk mengantisipasi tindakan terkait tarif yang dapat merugikan di masa mendatang. 

"ASEAN harus terus memonitor, berkoordinasi, dan menegaskan kembali komitmen pada sistem perdagangan multilateral berbasis aturan, termasuk menyerukan kepada negara mitra dan observer ASEAN untuk menghormati prinsip yang sama,” ucap dia.

Baca Juga: Kemendag Bidik Pasar Asia & Afrika Manfaatkan Kekosongan Akibat Selat Hormuz Ditutup

Kemudian, Roro menjelaskan upaya antisipasi tekanan geopolitik Timteng yang berlanjut, ASEAN mesti menguatkan dan mempercepat kerja sama regional pada bidang keamanan energi.

Upaya tersebut yakni berupa koordinasi yang lebih erat pada upaya penyediaan cadangan energi strategis dan meningkatkan integrasi ekonomi regional melalui beberapa perjanjian ekonomi yang sudah ada.

"ASEAN harus meningkatkan implementasi perjanjian ekonomi yang ada, seperti perjanjian perdagangan bebas ASEAN+1 dan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP). Dengan begitu, diharapkan akan memperkuat ketahanan rantai pasokan dengan memperdalam perdagangan intra-regional dan mendukung diversifikasi rantai pasokan. Kita harus memastikan ASEAN tetap menjadi pusat yang kompetitif dan andal dalam jaringan produksi kawasan maupun global,” sebutnya.

Baca Juga: Tarif Resiprokal AS Buka Peluang Baru, Tapi Risiko Ketergantungan Impor Mengintai

Lebih lanjut, kata Roro, Indonesia siap bekerja sama dengan seluruh anggota untuk memastikan ASEAN tetap tangguh, terbuka, dan berorientasi pada masa depan. Sementara itu, Indonesia juga menyambut baik beberapa rekomendasi yang lahir melalui ASEAN Geoeconomics Task Force (AGTF) untuk menyikapi isu geopolitik dan isu resiliensi ekonomi lainnya. Indonesia juga mendukung target penandatanganan ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) pada KTT ASEAN November 2026.

Melalui DEFA yang merupakan perjanjian ekonomi digital pertama di dunia ini, diharapkan ASEAN dapat mempercepat transformasi ekonomi di beberapa area utama agar dapat beradaptasi dengan situasi global terkini.

Baca Juga: ISACA Dorong Penguatan Tata Kelola Digital di Tengah Transformasi Perdagangan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×