kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.542   42,00   0,24%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Rupiah Melemah, Industri Makanan Minuman Tertekan


Kamis, 14 Mei 2026 / 10:41 WIB
Rupiah Melemah, Industri Makanan Minuman Tertekan
ILUSTRASI. Pelemahan rupiah hingga Rp 17.529 per dolar AS memicu kenaikan biaya impor bahan baku makanan (KONTAN/Carolus Agus Waluyo)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan besar terhadap industri makanan dan minuman nasional. Lonjakan biaya impor bahan baku hingga kemasan membuat pelaku usaha menghadapi tantangan berat di tengah ketidakpastian arah pergerakan kurs.

Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 17.476 per dolar AS pada Rabu (13/5/2026). Posisi tersebut menguat 0,3% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya. Namun sehari sebelumnya, Selasa (12/5/2026), rupiah sempat menyentuh level Rp 17.529 per dolar AS, yang menjadi titik terlemah sepanjang sejarah.

Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan ketidakpastian pergerakan nilai tukar menjadi persoalan utama yang dihadapi industri saat ini.

Baca Juga: Astra Perkuat Kepemimpinan Perempuan Lewat Astra Women Network 2026

“Ketidakpastian ini yang menjadi masalah. Kita tidak tahu sampai berapa nilai tukar akan terjadi, sehingga sulit menentukan langkah yang akan diambil,” ujar Adhi kepada Kontan, Kamis (14/5/2026).

Menurut Adhi, kondisi tersebut membuat pelaku industri kesulitan menentukan strategi bisnis, terutama dalam menetapkan waktu dan besaran penyesuaian harga jual produk di pasar.

Ia mengungkapkan, sebagian produsen makanan dan minuman mulai melakukan penyesuaian harga jual untuk meredam tekanan biaya produksi. Namun kenaikan harga masih dilakukan secara terbatas karena perusahaan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.

“Sebagian sudah menyesuaikan harga jual, meskipun tidak bisa besar karena mempertimbangkan daya beli,” katanya.

Baca Juga: Investor China Keluhkan Kebijakan Nikel Indonesia, Nilai Ancam Investasi

Di sisi lain, kenaikan biaya impor bahan baku, kemasan, serta kebutuhan produksi lainnya saat ini masih banyak ditanggung langsung oleh perusahaan. Akibatnya, margin keuntungan industri semakin tergerus.

“Terpaksa kenaikan bahan baku, kemasan dan lainnya diserap dengan mengurangi margin atau bahkan sampai tidak ada margin,” imbuhnya.

Gapmmi menilai stabilitas nilai tukar rupiah menjadi faktor krusial untuk menjaga keberlanjutan industri manufaktur nasional, khususnya sektor makanan dan minuman yang masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×