Reporter: Noverius Laoli | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan strategi besar untuk menjaga produksi pangan nasional di tengah ancaman fenomena El Nino yang berpotensi memicu kekeringan di sejumlah sentra pertanian.
Fokus utama diarahkan pada pengamanan sumber air dan percepatan pembangunan infrastruktur irigasi guna mempertahankan produksi beras sekaligus mengejar target tambahan produksi 1 juta ton pada 2026.
Sekretaris Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kemenan), Dhani Gartina, menegaskan ketersediaan air menjadi kunci menjaga keberlanjutan tanam di tengah ancaman musim kering.
"Pemerintah akan terus hadir memastikan ketersediaan air dan dukungan infrastruktur agar produksi pangan nasional tetap terjaga," ujarnya dalam siaran pers, Senin (15/6/2026).
Baca Juga: Inilah Perbedaan El Nino & Musim Kemarau, Cek Tips Hadapi Cuaca Panas 2026
Untuk mendukung target tersebut, Kementan memperkuat berbagai program pengelolaan sumber daya air, mulai dari rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pembangunan irigasi perpompaan dan perpipaan, embung, dam parit, hingga pengembangan sumber air alternatif.
Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan indeks pertanaman, terutama di lahan sawah tadah hujan yang selama ini hanya ditanami satu kali dalam setahun.
Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 15.000 unit irigasi perpompaan, 3.000 unit irigasi perpipaan, serta 3.000 unit bangunan konservasi air yang akan difokuskan di sentra produksi padi dan wilayah rawan kekeringan.
Selain pembangunan fisik, pemerintah juga menerapkan strategi antisipasi, adaptasi, dan mitigasi.
Upaya tersebut meliputi penguatan perencanaan musim tanam, penggunaan varietas padi tahan kekeringan, pola tanam hemat air, hingga dukungan asuransi pertanian dan bantuan sarana irigasi bagi petani.
Kementan juga telah memetakan wilayah rawan kekeringan, sumber air potensial, serta kebutuhan rehabilitasi jaringan irigasi untuk memastikan intervensi dilakukan secara tepat sasaran.
Baca Juga: Godzilla El Nino Mengancam Lumbung Pangan
Koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan pemerintah daerah terus diperkuat guna mempercepat peningkatan dan pemeliharaan infrastruktur irigasi.
Di sisi lain, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan ketersediaan pupuk bersubsidi tetap aman untuk mendukung produktivitas pertanian selama periode El Nino. Pada 2026, alokasi pupuk subsidi mencapai 9,5 juta ton yang terdiri atas pupuk urea, NPK, ZA, dan pupuk organik.
Vice President Manajemen Stakeholder Pupuk Indonesia, Susatyo Jati, mengatakan pihaknya telah menyiapkan stok pupuk di berbagai daerah untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim.
"Kami telah menyiapkan pupuk di lapangan untuk membantu petani dalam menghadapi iklim El Nino," katanya.
Hingga 31 Mei 2026, penyaluran pupuk subsidi telah mencapai sekitar 4 juta ton atau lebih dari 41 persen dari total alokasi tahunan.
Sementara per 8 Juni 2026, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,17 juta ton, terdiri atas 836 ribu ton pupuk bersubsidi dan 338 ribu ton pupuk nonsubsidi.
Baca Juga: Siaga! Ini Dampak Super El Nino 2026-2027 Bagi Indonesia
Pupuk Indonesia juga memastikan distribusi terus berjalan melalui jaringan distributor dan kios resmi yang saat ini menyimpan sekitar 488 ribu ton stok pupuk.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjamin kebutuhan pupuk petani tetap terpenuhi selama musim tanam, sehingga produksi pangan nasional dapat tetap terjaga meski menghadapi risiko kekeringan akibat El Nino.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













