Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peresmian Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung dinilai jadi pijakan penting dalam mempercepat transisi energi nasional.
Proyek berkapasitas pengolahan 2.131 ton sampah per hari dan potensi listrik 40,79 megawatt (MW) ini mempertegas pengelolaan sampah sebagai bagian dari infrastruktur energi serta mendorong penguatan ekonomi.
Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya menyampaikan, skema keberhasilan proyek waste to energy (WtE) ini perlu terus diterapkan di berbagai daerah lainnya guna menyelesaikan masalah persampahan sekaligus menekan emisi gas rumah kaca.
Baca Juga: Proyek PSEL Legok Nangka Rp 7,2 Triliun Dibangun, Akan Mengolah 2.131 Ton Sampah
"Pengembangan waste to energy harus diposisikan sebagai strategi nasional yang mengintegrasikan penyelesaian persoalan persampahan, penguatan ketahanan energi, pengembangan ekonomi sirkular, dan pencapaian target pembangunan rendah karbon," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (30/7/2026).
Bambang menekankan, keberlanjutan investasi pada proyek waste to energy memerlukan kepastian ekosistem, mulai dari pasokan sampah terpilah, dukungan pembiayaan, hingga kepastian penyerapan listrik oleh PT PLN (Persero). Oleh sebab itu, tata kelola lintas sektor antara pemerintah pusat, daerah, BUMN, dan dunia usaha harus berjalan selaras.
Guna mendukung keandalan sistem pengelolaan sampah di tingkat daerah, Bambang mengingatkan pemerintah kabupaten dan kota untuk memperkuat komitmen pendanaan lokal. Pemerintah daerah (Pemda) didorong untuk menyisihkan sebagian alokasi anggaran daerah agar infrastruktur penunjang dari hilir ke hulu dapat terbangun secara mandiri dan berkelanjutan.
Ia kembali mendorong pemerintah kabupaten dan kota mengalokasikan paling sedikit 3% APBD untuk memperkuat infrastruktur dan layanan pengelolaan sampah.
Menurutnya, kepastian pendanaan daerah merupakan salah satu prasyarat penting agar transformasi menuju ekonomi sirkular dan pengembangan waste to energy dapat berjalan secara konsisten, sekaligus mempercepat target nasional.
Lebih lanjut, Bambang menambahkan, keberhasilan program ini tidak cukup hanya diukur dari besarnya kapasitas listrik yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah sejauh mana PSEL mampu mengurangi tumpukan sampah, menekan emisi gas rumah kaca, meningkatkan pemanfaatan energi bersih, serta memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: PLN Siapkan Skema Kontrak Proyek PSEL, Jangka Waktu Jual-Beli Listrik 30 Tahun
"Karena itu, penguatan tata kelola, dukungan pendanaan yang memadai, dan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, dunia usaha, serta masyarakat menjadi faktor kunci agar model seperti PSEL Legok Nangka dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi nasional mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, berkelanjutan, dan bernilai tambah," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














