kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -18.000   -0,67%
  • USD/IDR 17.980   88,00   0,49%
  • IDX 6.002   -99,13   -1,62%
  • KOMPAS100 781   -14,41   -1,81%
  • LQ45 590   -8,67   -1,45%
  • ISSI 208   -4,12   -1,95%
  • IDX30 333   -4,54   -1,34%
  • IDXHIDIV20 408   -4,92   -1,19%
  • IDX80 89   -1,67   -1,85%
  • IDXV30 110   -0,94   -0,84%
  • IDXQ30 107   -1,18   -1,10%

Harga Ayam Anjlok, Peternak Keluhkan Biaya Pakan


Rabu, 24 Juni 2026 / 10:58 WIB
Harga Ayam Anjlok, Peternak Keluhkan Biaya Pakan
ILUSTRASI. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia mengeluhkan rendahnya harga ayam hidup atau live bird yang anjlok di bawah harga pokok produksi. (ANTARA FOTO/RAHMAD)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perhimpunan Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) mengeluhkan rendahnya harga ayam hidup atau live bird yang anjlok di bawah harga pokok produksi (HPP).

Permindo mencatat saat ini harga Live Bird di berbagai sentra produksi nasional berada pada kisaran Rp17.000– Rp 15.000 per kilogram, sementara HPP peternak telah mencapai sekitar Rp22.000 per kilogram. 

Menurutnya salah satu penyebabnya karena harga pakan yang melonjak hingga mencapai Rp 8.600–Rp 9.500 per kilogram, meningkat sekitar Rp1.000 per kilogram dibandingkan periode sebelumnya.

Baca Juga: 3 Lokasi PSEL Bakal Groundbreaking, 80% Persoalan Sampah Ditargetkan Tuntas pada 2029

“Kondisi tersebut menyebabkan peternak rakyat mengalami kerugian antara Rp 5.000 hingga Rp 7.000 per kilogram ayam yang dijual. Dengan rata-rata bobot panen 2 kilogram per ekor, kerugian peternak dapat mencapai Rp8.000 hingga Rp10.000 per ekor,” kata Permindo dalam keterangan resminya, Rabu (24/6/2026). 

Menurut Permindo, kondisi yang terjadi saat ini merupakan bentuk Cost-Price Squeeze, yaitu ketika biaya produksi terus meningkat sementara harga jual justru mengalami penurunan. Situasi ini membuat margin usaha peternak tergerus secara sistematis dan berpotensi mengancam keberlanjutan usaha peternakan rakyat.

"Peternak rakyat tidak sedang menghadapi krisis harga ayam semata, tetapi menghadapi krisis margin usaha akibat harga jual yang turun bersamaan dengan kenaikan biaya pakan yang tidak terkendali," tegas Permindo.

Lebih jauh, Permindo menilai akar persoalan tidak berhenti pada harga pakan dan harga ayam semata. Terdapat efek domino dalam rantai pasok nasional yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.

Baca Juga: Skema dan Harga DMO Batubara Jadi Sorotan, Ini Catatan dari Dewan Energi Nasional

Menurut organisasi peternak tersebut, perubahan mekanisme pengadaan bahan baku pakan impor yang semakin terkonsentrasi melalui satu pintu dengan sistem pembayaran Cash Before Delivery (CBD) telah meningkatkan kebutuhan modal kerja industri pakan secara signifikan.

Bahan baku utama seperti soybean meal (SBM), feed wheat, dan berbagai komponen pakan lainnya kini membutuhkan dukungan likuiditas yang jauh lebih besar dibandingkan sebelumnya. 

Dalam kondisi tersebut, pabrik pakan skala menengah dan kecil yang tidak memiliki kekuatan modal seperti perusahaan besar menghadapi tekanan arus kas yang semakin berat.

Akibatnya, banyak pabrik pakan harus mempercepat penagihan kepada peternak guna menjaga ketersediaan dana untuk pembelian bahan baku berikutnya. 

“Tekanan likuiditas yang semula berada di tingkat industri pakan kemudian berpindah ke tingkat peternak,” lanjutnya. 

Menurut Permindo, kondisi tersebut menyebabkan peternak terpaksa menjual ayam lebih cepat meskipun harga pasar sedang rendah untuk mendapatkan modal cepat. 

Baca Juga: Pemerintah Sempat Tahan Ekspor Batubara, PLN Percepat Kontrak untuk Amankan Listrik

“Dalam banyak kasus, ayam dijual sebelum mencapai bobot optimal hanya untuk memenuhi kebutuhan pembayaran yang mendesak,” tegasnya. 

Permindo juga melihat tekanan ini kerap dimanfaatkan oleh pedagang perantara atau middle man yang memiliki kemampuan membeli dalam jumlah besar dan mengendalikan arus perdagangan di lapangan.

“Akibatnya harga ayam hidup semakin tertekan dan sering kali bergerak jauh di bawah harga acuan yang telah ditetapkan pemerintah,” urai Permindo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×