kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.564.000   -10.000   -0,39%
  • USD/IDR 18.002   -55,00   -0,30%
  • IDX 5.279   282,28   5,65%
  • KOMPAS100 680   48,89   7,75%
  • LQ45 530   41,89   8,58%
  • ISSI 180   7,15   4,15%
  • IDX30 298   24,37   8,92%
  • IDXHIDIV20 389   32,13   9,00%
  • IDX80 78   5,77   7,97%
  • IDXV30 108   7,16   7,11%
  • IDXQ30 98   8,45   9,41%

Harga Batubara Tinggi Jadi Momentum Genjot Produksi, tapi Target Belum Tentu Tercapai


Selasa, 20 Oktober 2026 / 18:16 WIB
Harga Batubara Tinggi Jadi Momentum Genjot Produksi, tapi Target Belum Tentu Tercapai
ILUSTRASI. Tongkang batubara (Sriwijaya Post/Syahrul Hidayat)


Penulis: Chelsea Anastasia, Chelsea Anastasia | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga batubara menjadi peluang bagi perusahaan tambang untuk meningkatkan produksi dan mendongkrak pendapatan. Namun, harga yang tinggi belum tentu langsung mendorong kenaikan realisasi produksi.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi & Pertambangan (Pushep) Bisman Bakhtiar mengatakan, harga batubara yang tinggi dapat menjadi insentif bagi penambang untuk meningkatkan produksi. Namun, pencapaian target produksi tetap bergantung pada sejumlah faktor, mulai dari perizinan hingga kesiapan operasional.

"Kendalanya mencakup persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), kesiapan alat dan kapasitas tambang, cuaca, serta logistik pengangkutan," katanya kepada Kontan, Selasa (20/10/2026).

Baca Juga: ICP Tembus US$ 106 per Barel, Penerimaan Hulu Migas Diproyeksi Capai 109% pada 2026

Menurut Bisman, di tengah tingginya harga batubara, pemerintah perlu memastikan kepastian kuota produksi dan kelancaran rantai pasok. Dengan begitu, peluang kenaikan harga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan penerimaan negara dan devisa ekspor.

Ia menambahkan, bagi perusahaan tambang, kenaikan harga batubara berpotensi meningkatkan pendapatan dan margin keuntungan, terutama jika volume penjualan tetap terjaga.

Sebaliknya, kondisi ini menjadi tantangan bagi industri pengguna batu bara, seperti industri semen, lantaran dapat meningkatkan biaya energi dan menekan margin usaha. Apalagi, kenaikan biaya tersebut tidak selalu bisa diteruskan kepada konsumen melalui kenaikan harga jual.

Bisman memperkirakan, harga batubara akan bertahan di level tinggi hingga akhir 2026. Salah satu faktor yang menopang harga adalah meningkatnya kebutuhan energi saat memasuki musim dingin di tengah potensi gangguan pasokan gas.

Kendati demikian, ia menegaskan arah harga batubara masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen lain, antara lain permintaan dari China dan India, ketersediaan pasokan, serta perkembangan konflik geopolitik.

"Jadi harga potensial menguat, tetapi volatilitasnya juga tinggi," tandas Bisman.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah membuka peluang peningkatan produksi batubara nasional seiring kenaikan harga komoditas tersebut.

"Dari sisi mineral batubara, kita tahu bahwa Alhamdulillah sekarang harga batubara kita mulai naik dan mencapai US$ 154 per ton untuk kalori tinggi. Harapan kita memang adalah dengan harganya bagus, produksinya kita naikkan," jelasnya di Istana Kepresidenan, dikutip Selasa (20/10/2026).

Bahlil mengatakan, pemerintah masih memberikan relaksasi berupa tambahan kuota produksi secara terbatas untuk menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan. Pemerintah juga berharap kebijakan tersebut dapat mendorong masuknya devisa dalam waktu dekat.

"Dan sekarang kita tetap akan melakukan relaksasi terbatas untuk menjaga supply and demand. Tapi kita juga ingin untuk dalam waktu dekat, kita pengin sekali untuk bagaimana devisa kita bisa masuk," imbuhnya.

Baca Juga: Penjualan Formosa Ingredient (BOBA) Naik 20,48% Jadi Rp 160,04 M per Kuartal III-2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?

Video Terkait



TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×