Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan setoran dari sektor hulu migas bakal melampaui target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026.
Pemicu utamanya tak lain dari melambungnya harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang kini menembus kisaran US$ 106 per barel. Angka realisasi tersebut melonjak signifikan dibandingkan asumsi makro APBN 2026 yang dipatok sebesar US$ 70 per barel, sehingga berdampak positif bagi pundi-pundi penerimaan negara.
Deputi Keuangan dan Komersialisasi SKK Migas, Desti Melanti mengonfirmasi potensi kelebihan target tersebut di tengah pergerakan pasar komoditas yang volatil.
Baca Juga: Pendapatan dan Laba Tera Data Indonusa (AXIO) Kompak Tumbuh hingga Kuartal III-2026
"Pada tahun 2026 ini Insya Allah kami dapat mencetak 109% dari target APBN yang telah ditetapkan," ujarnya dalam Konferensi Pers Forum Ekonomi Hulu Migas (FOREK Hulu Migas) 2026, Jakarta, Selasa (20/10/2026).
Dalam paparan Desti, total penerimaan negara dari sektor ini diproyeksikan mampu menyentuh US$ 11,63 miliar hingga akhir tahun. Target tersebut berpotensi surplus sekitar US$ 970 juta jika dibandingkan dengan patokan awal APBN 2026 yang ditetapkan sebesar US$ 10,66 miliar.
Desti menegaskan, performa penerimaan hulu migas sangat bergantung pada kombinasi pergerakan harga komoditas global dan realisasi volume lifting di lapangan. Menurutnya, lonjakan ICP yang terbilang tajam mampu mendongkrak capaian nilai komersialisasi migas nasional saat ini.
“Pada saat harga naik, walaupun lifting tidak naik signifikan, itu tetap mampu menaikkan target penerimaan negara. Apalagi cukup signifikan kenaikannya dari US$ 75 ke US$ 106 per barel,” ungkapnya.
Kendati mendapat angin segar dari harga minyak, SKK Migas menyadari faktor eksternal tersebut sangat rentan berbalik arah sewaktu-waktu. Guna mengamankan momentum, pihaknya memilih berfokus memacu optimalisasi skema komersialisasi serta mempercepat penyaluran lifting agar potensi penerimaan negara dapat tergarap maksimal.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) telah menembus US$ 106 per barel akibat ketidakpastian geopolitik global.
Bahlil, yang juga menjabat Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, telah melaporkan perkembangan kenaikan harga minyak tersebut kepada Presiden Prabowo Subianto.
"Kita tahu bahwa kondisi global sampai dengan sekarang kondisinya semakin tidak menentu. Dan hari ini ICP sudah tembus di angka US$ 100 per barel, di angka US$ 106, US$ 105 dolar per barel. Tapi rata-rata sampai dengan dari Januari sampai dengan bulan Oktober sekarang, ICP kita di angka US$ 91 sampai dengan US$ 92 per barel," ujarnya di Istana Negara, Jakarta, Senin (19/10/2027).
Baca Juga: MyClinic Malaysia Investasi Rp 4,38 Miliar untuk Ekspansi ke Indonesia
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














