kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga Dexlite dan Pertamina Dex Melonjak, Penjualan Mobil Diesel Bekas Anjlok?


Kamis, 07 Mei 2026 / 21:01 WIB
Diperbarui Kamis, 07 Mei 2026 / 21:03 WIB
Harga Dexlite dan Pertamina Dex Melonjak, Penjualan Mobil Diesel Bekas Anjlok?
ILUSTRASI. Harga BBM diesel non-subsidi menekan pasar, penjualan mobil bekas turun drastis. Cari tahu model yang paling terdampak (KONTAN/Baihaki)


Reporter: Zendy Pradana | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi jenis Dexlite dan Pertamina Dex sejak pertengahan April 2026 mulai memberikan tekanan besar terhadap pasar kendaraan diesel di Indonesia.

Lonjakan biaya operasional dinilai membuat minat masyarakat terhadap mobil diesel mengalami penurunan tajam, baik di pasar kendaraan baru maupun mobil bekas.

Pengamat otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus, menilai dampak kenaikan harga BBM diesel sangat signifikan terhadap perilaku konsumen. Menurut dia, kondisi tersebut langsung memukul penjualan mobil diesel bekas yang selama ini menjadi pilihan masyarakat kelas menengah.

Ia mengungkapkan bahwa penjualan mobil bekas berbahan bakar diesel saat ini turun hingga 70% dibandingkan periode sebelum harga solar non-subsidi mengalami kenaikan.

"Model-model favorit segmen menengah seperti Fortuner, Pajero Sport, dan Innova Reborn mengalami penurunan permintaan yang signifikan dengan koreksi harga mencapai Rp40 juta - Rp 50 juta," ujar Yannes kepada Kontan, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga: Pemerintah Stop Impor Solar Mulai 2026, Bisa Hemat Devisa Hingga Rp 65 Triliun?

Menurut Yannes, kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex membuat banyak pemilik kendaraan diesel mulai mempertimbangkan untuk melepas kendaraannya. Di sisi lain, calon pembeli juga mulai menahan diri karena khawatir terhadap lonjakan biaya penggunaan harian.

"Kondisi ini menciptakan tekanan ganda, karena pemilik lama ingin jual sementara calon pembeli baru enggan masuk karena biaya operasional yang membengkak drastis," ucap dia.

Lebih lanjut, kondisi tersebut juga dinilai berpotensi mengubah preferensi konsumen dalam memilih kendaraan roda empat ke depan. Masyarakat perkotaan, khususnya kelas menengah, disebut mulai melirik kendaraan dengan efisiensi energi yang lebih baik.

Baca Juga: Harga Solar Non-Subsidi Naik, Penjualan Mobil Diesel Tertekan

Yannes menilai tren peralihan menuju kendaraan elektrifikasi akan semakin kuat di tengah tingginya biaya operasional mobil diesel. Menurut dia, kendaraan hybrid electric vehicle (HEV) maupun battery electric vehicle (BEV) mulai dipandang sebagai solusi mobilitas yang lebih ekonomis dalam jangka panjang.

"Kelas menengah perkotaan yang sangat sensitif terhadap pengeluaran rutin bulanan akan melakukan eksodus besar-besaran dengan mencoret mobil diesel dari daftar pilihan utama mereka dan bermigrasi menuju ekosistem mobilitas yang lebih logis serta efisien, yakni kendaraan HEV ataupun BEV," tandas dia.

Kenaikan harga BBM diesel non-subsidi ini diperkirakan akan terus menjadi tantangan bagi industri otomotif, terutama untuk segmen kendaraan diesel yang selama ini mengandalkan efisiensi konsumsi bahan bakar sebagai daya tarik utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Apa dampak bagi saya, jika saya...



TERBARU

[X]
×