kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Hiswana sebut tidak ada kelangkaan gas melon di Garut


Rabu, 11 September 2019 / 07:35 WIB
Hiswana sebut tidak ada kelangkaan gas melon di Garut
ILUSTRASI. Pekerja menata tabung elpiji ukuran tiga kilogram

Reporter: Dadan M. Ramdan | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - ​JAKARTA. Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswana) DPC Kabupaten Garut, Jawa Barat, menambah pasokan gas elpiji 3 kilogram (kg) sebanyak 9.000 tabung sejak dua pekan lalu, menyusul penambahan satu agen yang beroperasi di wilayah tersebut.

Evi Hartaz Alvian, Humas Hiswana Migas DPC Kabupaten Garut mengatakan, bahkan dalam beberapa waktu ke depan bakal ada penambahan satu sampai dua agen baru lagi.

"Dengan penambahan agen tentu pasokan gas elpiji subdisi ini juga akan bertambah. Alokasi untuk Garut sebanyak 1.309.000 tabung per bulan yang didistribusikan oleh 31 agen dan 993 pangkalan," katanya kepada Kontan.co.id Selasa (10/9).

Sebelumnya, sejumlah warga di Garut, Jawa Barat, mengeluhkan sulitnya mendapatkan gas LPG 3 kg, yang sudah berlangsung sejak sepekan lalu. Akibatnya, harga gas tabung melon tersebut melangbung tabung di warung-warung sekitar pemukiman warga.

Baca Juga: Pakai 1.000 tabung LPG, Rumah Makan di Bandung gratis isi ulang setahun

Evi menduga, tidak menutup kemungkinan tingginya harga gas melon di warung-warung bisa jadi akibat ulah oknum warga yang cari keuntungan.

Tapi, ia mengaku tidak bisa mengambil tindakan kepada pemilik warung yang menjual harga gas subsidi diluar ketentuan, lantaran bukan ranah kewenangannya. "Kewenangan kami hanya pada agen dan pangkalan," tukasnya.

Meski demikian, Hiswana Migas DPC Garut tidak menampik ada kendala distribusi pasokan gas akibat kemacetan lalu lintas.

"Pasokan untuk Garut dikirim dari Balongan dan Indramayu. Sekarang tingkat kemacetannya tinggi terutama di Ranca Ekek. Pengiriman bisa terhambat dalam beberapa jam bahkan bisa seharian," keluh Evi. Hal ini tentunya berdampak terhadap stok gas elpiji 3 kg di agen, pangkalan sampai warung warung, seperti yang dikeluhkan warga lantaran kosong.

Di sisi lain, Evi juga menyebutkan ada peningkatan penggunaan gas untuk pemanas air karena dalam empat sampai lima bulan belakangan ini suhu udara di wilayah Garut cukup dingin.

Meski belum ada data resmi, penggunaan gas elpiji di luar kondisi normal ini sekitar 10%-15%. "Tentu ini juga berpengaruh terhadap ketersediaan gas," ungkap dia.




TERBARU

Close [X]
×