Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengincar pertumbuhan kinerja operasional dengan mengoptimalkan kapasitas fasilitas produksi eksisting.
Anggota holding industri pertambangan MIND ID tersebut membidik tingkat produksi aluminium mampu menembus kisaran 278.000 ton hingga 280.000 ton sampai penghujung tahun 2026.
Target tersebut melampaui rencana awal perseroan yang mematok volume produksi di level 275.000 ton sepanjang tahun ini. Adapun realisasi produksi Inalum di tahun 2025 sebesar 280.082 ton.
Baca Juga: Godrej Indonesia Kucurkan Investasi Rp 500 Miliar untuk Bangun Pabrik di KEK Kendal
Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra mengungkapkan, kinerja produksi perusahaan berada dalam kondisi yang sangat prima.
"Kita saat ini sudah mencapai kurang lebih konsisten di 104% (realisasi produksi tahunan). Jadi kita targetkan 278.000 sampai 280.000 (ton), produksi kita di tahun 2026," ujarnya saat ditemui di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Di luar optimalisasi fasilitas peleburan eksisting, Inalum juga tengah menyiapkan sederet alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) untuk proyek strategis seperti di Mempawah, Kalimantan Barat hingga Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
"Kalau di Mempawah nanti Capex kurang lebih untuk smelter itu US$ 2,5 miliar sampai US$ 3 miliar. Kemudian untuk SGAR Fase II US$ 900 juta sampai US$ 1 miliar. Kemudian ada PLTU yang kurang lebih nanti mungkin antara Rp 1,7 (triliun) sampai Rp 2,2 (triliun) untuk 1,4 gigawatt," jelasnya.
Guna menunjang keandalan operasional proyek terintegrasi tersebut, pihaknya turut menyiapkan kebutuhan infrastruktur pendukung seperti jalur pengangkutan (hauling route).
"Hauling route itu Rp 1 triliun sampai Rp 2 triliun karena panjangnya itu 64 kilometer dan membangun jembatan besar-besar. Jembatannya itu 4 saat ini, kemungkinan nanti di fase II akan membangun 3 sampai 4 lagi jembatan yang sangat besar. Kemudian juga ada investasi di tambang bauksitnya," pungkasnya.
Baca Juga: Menekan Emisi, Industri Nikel Mulai Elektrifikasi Alat Berat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














