Sumber: Bloomberg | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia menjalin kemitraan investasi dengan Rubicon Carbon, perusahaan yang didukung oleh dana iklim Rise Climate milik TPG Inc., untuk membiayai proyek-proyek kredit karbon di Indonesia. Langkah ini dilakukan ketika pemerintah berupaya mempercepat pengembangan pasar karbon nasional sekaligus membuka peluang perdagangan kredit karbon dengan negara lain.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengatakan pemerintah Indonesia telah membentuk skema kemitraan ko-investasi dengan Rubicon Carbon yang akan menggabungkan pendanaan publik dan swasta melalui sebuah kendaraan investasi khusus untuk proyek karbon biru (blue carbon).
“Indonesia berkomitmen membuka seluruh potensi ekonomi karbon biru, sekaligus memastikan masyarakat pesisir tetap menjadi pusat dalam pengembangannya,” ujar Trenggono dalam pernyataan kepada Bloomberg News.
Baca Juga: Cuaca Panas Jadi Peluang, Produsen Hadirkan Produk Penunjang Kualitas Udara
Karbon biru merujuk pada upaya penyerapan karbon dioksida oleh ekosistem pesisir, seperti hutan mangrove dan rawa asin (salt marsh). Ekosistem ini dinilai memiliki kemampuan besar dalam menyimpan karbon, bahkan dalam beberapa kondisi mampu menyerap karbon lebih banyak per luas wilayah dibandingkan hutan tropis.
Dalam kerja sama tersebut, pemerintah Indonesia akan mendukung pelaksanaan proyek melalui penyediaan akses lahan, perizinan, serta membantu keterlibatan dengan masyarakat lokal. Namun, nilai investasi dalam kemitraan ini belum diumumkan. Juru bicara Rubicon Carbon juga menolak memberikan rincian mengenai aspek finansial kerja sama tersebut.
Tahap awal kemitraan ini diproyeksikan menjadi proyek restorasi mangrove karbon biru terbesar di Indonesia. "Program tersebut akan mencakup area hingga 70.000 hektare di sepanjang pantai utara Jawa dan berpotensi diperluas apabila tahap percontohan (pilot project) berjalan sukses," kata Trenggono.
Kemitraan ini difasilitasi oleh perusahaan penasihat Equatorise dan bertujuan melindungi, memulihkan, serta mengelola ekosistem karbon biru yang disebut Trenggono sebagai salah satu aset iklim paling berharga bagi Indonesia.
Indonesia memiliki sekitar 20% dari total ekosistem mangrove dunia, menjadikannya negara dengan kawasan mangrove terbesar di dunia. Namun, lebih dari sepertiga ekosistem tersebut saat ini mengalami degradasi akibat berbagai tekanan lingkungan dan aktivitas manusia.
Selain menyimpan karbon, mangrove juga berperan penting dalam melindungi wilayah pesisir dari banjir, mengurangi dampak gelombang tinggi, serta menyediakan habitat bagi berbagai jenis biota laut.
Baca Juga: Persaingan Pasar AC Kian Ketat, Produsen Perkuat Jaringan Layanan dan Produk Baru
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya telah menyampaikan ambisi untuk menghasilkan pendapatan hingga miliaran dolar dari kredit karbon. Pemerintah juga mengambil sejumlah langkah kebijakan untuk menghidupkan kembali sektor tersebut setelah sebelumnya Indonesia menjadi salah satu pemasok kredit karbon sukarela terbesar di Asia.
Namun, ekspor kredit karbon Indonesia sempat dibatasi pada 2022 ketika pemerintah melakukan evaluasi terhadap peran kredit karbon domestik dalam memenuhi target iklim nasional.
Rubicon Carbon didirikan oleh mantan eksekutif Bank of America Corporation, Tom Montag, dengan tujuan memanfaatkan potensi pertumbuhan pasar karbon global yang diperkirakan meningkat seiring memburuknya krisis iklim.
Montag menyebut Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin global dalam sektor karbon biru. Dalam unggahan di akun LinkedIn Rubicon Carbon bulan lalu, ia mengatakan perusahaan tersebut telah menandatangani nota kesepahaman untuk memperkuat kerja sama strategis dengan pemerintah Indonesia.
Indonesia memandang kerja sama dengan Rubicon Carbon sebagai langkah penting untuk memperkuat partisipasi dalam mekanisme kredit karbon yang berada di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Pasal 6 Perjanjian Paris.
Mekanisme tersebut memungkinkan perdagangan kredit karbon antarnegara. Pemerintah Indonesia menyatakan proyek karbon biru di Jawa sejak awal dirancang agar dapat mendukung kerja sama perdagangan karbon melalui skema Pasal 6 tersebut.
Sejumlah negara, termasuk Norwegia dan Singapura, sebelumnya telah menandatangani kesepakatan awal dengan Indonesia terkait kemungkinan perdagangan kredit karbon.
Pasar kredit karbon global sendiri diperkirakan dapat mencapai nilai hingga US$ 1 triliun pada 2050. Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan besar akibat sejumlah skandal dan mundurnya beberapa perusahaan dari komitmen pengurangan emisi.
Baca Juga: RKAB TINS di Belitung Ludes untuk 2026, Kementerian ESDM Minta Serap dari Masyarakat
Rubicon Carbon, yang dipimpin Tom Montag, dibentuk untuk memfasilitasi perdagangan kredit karbon di tengah meningkatnya kebutuhan perusahaan dan negara untuk mencapai target emisi nol bersih (net zero emissions).
Menurut Trenggono, kolaborasi dengan Rubicon Carbon bermula dari pertemuan awal di Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) di Davos dengan Chief Market Relations Officer Rubicon Carbon, Filipe Blackwood Oliveira. Kerja sama tersebut kemudian difinalisasi dengan dukungan Flora Ji, mantan eksekutif Shell plc yang kini memimpin operasional Rubicon Carbon di Asia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
