kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.085.000   40.000   1,31%
  • USD/IDR 16.809   26,00   0,15%
  • IDX 8.235   0,22   0,00%
  • KOMPAS100 1.156   -1,44   -0,12%
  • LQ45 834   -3,53   -0,42%
  • ISSI 293   0,28   0,09%
  • IDX30 440   -3,60   -0,81%
  • IDXHIDIV20 527   -6,48   -1,22%
  • IDX80 129   -0,27   -0,21%
  • IDXV30 143   -1,25   -0,87%
  • IDXQ30 141   -1,73   -1,21%

Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) Bidik Pertumbuhan Moderat 10% - 15% pada 2026


Minggu, 01 Maret 2026 / 12:32 WIB
Indonesia Kendaraan Terminal (IPCC) Bidik Pertumbuhan Moderat 10% - 15% pada 2026


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) mengejar pertumbuhan kinerja operasional dan keuangan pada tahun 2026 dengan pendekatan yang moderat. Emiten dari Grup Pelindo ini menargetkan pertumbuhan kinerja sekitar 10% - 15% dibandingkan capaian di tahun lalu.

Direktur Utama Indonesia Kendaraan Terminal, Sugeng Mulyadi menyatakan bahwa tahun 2026 akan menjadi momentum akselerasi transformasi bagi IPCC dalam memperkuat peran strategis sebagai simpul logistik kendaraan nasional. Sebagai bagian dari transformasi perusahaan, IPCC telah melakukan strategic positioning realignment melalui perubahan tagline dari "Beyond The Gate" menjadi "Integrated Auto Solutions". 

Perubahan ini menegaskan arah strategis IPCC dalam merespons perkembangan industri otomotif dan logistik yang semakin dinamis.

Saat ini, IPCC tidak hanya berperan sebagai operator terminal, tetapi sebagai penyedia layanan logistik kendaraan terintegrasi end-to-end, yang mencakup terminal handling, land transportation, Pre-Delivery Center (PDC) / warehouse, distribusi ke dealer, hingga layanan shipping. 

"Kinerja keuangan perusahaan diharapkan bertumbuh berkelanjutan mengikuti tren pencapaian IPCC pada tiga tahun terakhir seiring dengan upaya revenue enhancement serta pengelolaan keuangan yang semakin efisien," ungkap Sugeng kepada Kontan.co.id, Minggu (1/3/2026).

Baca Juga: Imbas Konflik Timur Tengah, Tekanan Biaya Logistik

IPCC mengusung lima strategi untuk mencapai pertumbuhan operasional dan kinerja keuangan. Pertama, Asset Expansion for Scalable Growth. IPCC melakukan ekspansi kapasitas melalui optimalisasi lahan eksisting, pengembangan terminal satelit, serta penjajakan akuisisi lahan baru di luar area terminal.

Melalui pendekatan tersebut, IPCC ingin memastikan kesiapan perusahaan dalam menangkap pertumbuhan volume domestik dan ekspor, sekaligus meningkatkan utilisasi aset secara produktif dan bernilai tambah.

Kedua, Integrated Auto Ecosystem Development. Transformasi model bisnis diarahkan dari sekadar terminal operator menjadi penyedia Integrated Auto Solutions.

Strategi tersebut bertujuan untuk memperluas rantai nilai dan menciptakan sumber pendapatan berkelanjutan berbasis layanan terintegrasi.

Ketiga, Global Partnership & Competitive Benchmarking. Sebagai bagian dari agenda peningkatan daya saing global, IPCC menjajaki kemitraan strategis dengan pemain internasional seperti Noatum Automotive maupun mitra global lainnya.

"Kolaborasi ini tidak hanya membuka akses jaringan internasional, tetapi juga menghadirkan transfer knowledge, standar operasional kelas dunia, serta benchmarking performa yang selaras dengan praktik terbaik global," ungkap Sugeng.

Keempat, Operational Excellence & Digital Transformation. IPCC mempercepat automasi dan digitalisasi melalui optimalisasi Pelindo Terminal Operating System – Car (PTOS-C), penyempurnaan operating model, pengendalian biaya Kerja Sama Mitra Usaha (KSMU), serta penataan terminal berbasis efisiensi dan data-driven decision making.

Baca Juga: Konflik Memanas, Sejumlah Penerbangan ke Timur Tengah dari Soekarno-Hatta Dibatalkan

Kelima, Revenue Resilience & Financial Sustainability. Melalui strategi ini, Sugeng menekankan bahwa evaluasi dan penyesuaian tarif dilakukan secara prudent untuk memastikan struktur pendapatan yang sehat, kompetitif, dan mampu mendukung investasi jangka panjang. 

Sugeng menambahkan, pada tahun ini alokasi belanja modal atau capital expenditure (capex) IPCC masih selektif, yakni sekitar Rp 16 miliar. Fokus capex akan digunakan untuk memperluas ground slot atau kapasitas penumpukan agar dapat menampung lebih banyak kargo baik ekspor dan impor kendaraan melalui terminal IPCC.

Tantangan & Peluang Industri Otomotif

Selain menyiapkan strategi secara internal, Sugeng menegaskan bahwa IPCC mencermati faktor eksternal, termasuk tantangan yang membayangi industri otomotif. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan kebijakan berupa insentif kendaraan listrik atau Electric Vehicle (EV) yang berakhir pada 2025. 

Dengan berakhirnya insentif tersebut, IPCC pun mengantisipasi penurunan volume impor EV pada tahun ini. IPCC lantas melirik peluang dari rencana pemberian insentif untuk kendaraan hybrid yang berpotensi menggeser dinamika pasar domestik, serta rencana pemberian insentif bea masuk mobil Eropa yang akan diberlakukan secara bertahap.

Sugeng pun meyakini perubahan kebijakan pemerintah tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja IPCC. Hal ini didukung oleh kondisi pasar EV yang masih menunjukkan tren pertumbuhan seiring mulai beroperasinya beberapa pabrik EV di Indonesia, serta rencana insentif terhadap kendaraan hybrid. 

 

IPCC pun memperkirakan akan ada pergeseran pola dari impor secara Completely Built Up (CBU) menjadi produksi domestik dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekspor EV.

"IPCC akan terus menangkap peluang dengan memanfaatkan posisi strategis Indonesia sebagai export hub otomotif, sekaligus memperkuat layanan yang terintegrasi kendaraan listrik secara end-to-end," terang Sugeng.

Ekspansi & Kemitraan Global

Tak hanya mengejar penguatan usaha di pasar dalam negeri, IPCC juga menjajaki berbagai kemitraan global. Sugeng menegaskan, IPCC terbuka untuk menjajaki peluang kolaborasi dengan mitra potensial yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah dan memperkuat posisi IPCC dalam industri otomotif global.

Sugeng memastikan, penjajakan kerja sama global IPCC pada tahun ini tidak hanya terbatas di wilayah India maupun Timur Tengah. "Kami juga masih mencari pola kemitraan yang memberikan value terbaik bagi IPCC maupun calon mitra kami di masa depan," imbuh Sugeng.

Dalam rencana ekspansi bisnis IPCC untuk go global, hal utama yang dapat dikolaborasikan dengan mitra strategis adalah pola pengelolaan terminal. Namun IPCC tidak menutup kemungkinan untuk pengembangan bidang lainnya seperti pengembangan talenta dan informasi kepelabuhanan serta potensi inovasi bisnis dan teknologi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Procurement Strategies for Competitive Advantage (PSCA) AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×