Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID- JAKARTA. Industri plastik nasional masih berada dalam fase bertahan di tengah tekanan global yang belum mereda. Meski menghadapi pelemahan aktivitas manufaktur dan gejolak pasokan bahan baku, pelaku industri memastikan belum terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).
Ketua Umum Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Suhat Miyarso mengungkapkan, pelaku industri saat ini fokus menjaga keberlangsungan operasional agar tidak berhenti produksi.
“Intinya bahwa kita mulai melihat titik terang dan kita berharap bahwa dalam dua-tiga bulan nanti sudah terjadi keadaan yang lebih baik,” ujar Suhat dalam diskusi Dampak Gejolak Geopolitik Terhadap Industri Plastik di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Menurut Suhat, tekanan terhadap industri plastik tidak hanya terjadi dalam beberapa bulan terakhir, tetapi sudah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. Kondisi ini diperparah oleh faktor geopolitik global yang memicu gangguan pasokan dan kenaikan harga energi.
Baca Juga: Lautan Luas Kembali Bangun Sekolah Ramah Lingkungan dari 2,2 Ton Sampah Plastik
Pada April lalu, kinerja industri juga tertekan seiring penurunan indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang turun hampir 1%. Hal ini mencerminkan aktivitas industri yang masih berada dalam tekanan.
Meski demikian, pelaku industri mulai melihat adanya tanda-tanda perbaikan memasuki Mei 2026.
Senada, Wakil Ketua Umum Inaplas Edi Rivai bilang hingga saat ini belum ada indikasi PHK di sektor petrokimia dan plastik, khususnya di sisi hulu.
"Kalau dari pengalaman selama ini di industri kimia dan plastik itu tidak pernah adanya kejadian yang sifatnya sampai PHK. Karena kita tahu persis ini industri ini adalah cycle ya, jadi ya ada masanya memang sulit ya kita sama-sama ada yang waktunya pas lagi bagus ya itu juga sama-sama, jadi di industri petrokimia dan hilirnya hampir saya sampaikan hingga saat ini tidak satu orang pun untuk di-PHK," jelas Edi.
Namun demikian, tekanan terhadap industri tetap signifikan, terutama akibat tingginya ketergantungan impor bahan baku yang mencapai sekitar 60%–70% dari kebutuhan nasional. Kondisi ini membuat industri rentan terhadap gangguan pasokan global.
Di sisi lain, serbuan produk impor dengan harga murah juga semakin menekan daya saing industri dalam negeri. Inaplas menilai praktik perdagangan tidak wajar (unfair trade) seperti dumping menjadi salah satu tantangan utama yang perlu segera direspons pemerintah.
Baca Juga: Relaksasi Bea Masuk Bahan Baku Plastik Jadi Angin Segar Industri Kosmetik
Untuk menjaga keberlangsungan industri, pelaku usaha mendorong pemerintah memperkuat kebijakan pendukung, mulai dari kepastian pasokan bahan baku, insentif fiskal, hingga perlindungan pasar domestik.
Meski tekanan masih berlanjut, Inaplas optimistis industri plastik dapat bertahan dan perlahan pulih dalam beberapa bulan ke depan seiring membaiknya kondisi pasokan dan stabilisasi harga bahan baku.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













