kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   6.000   0,23%
  • USD/IDR 17.928   15,00   0,08%
  • IDX 6.119   81,97   1,36%
  • KOMPAS100 788   11,28   1,45%
  • LQ45 603   7,78   1,31%
  • ISSI 213   2,98   1,42%
  • IDX30 336   5,02   1,52%
  • IDXHIDIV20 429   6,53   1,54%
  • IDX80 90   1,23   1,39%
  • IDXV30 116   1,54   1,34%
  • IDXQ30 110   1,55   1,44%

Industri Vape Minta BRIN Buka Data Klaim 100% Diabetes dan 92% Gangguan Paru


Senin, 05 Oktober 2026 / 17:58 WIB
Industri Vape Minta BRIN Buka Data Klaim 100% Diabetes dan 92% Gangguan Paru
ILUSTRASI. Vape atau Vaporizer, Rokok elektrik, eCigarette (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Diki Mardiansyah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku industri vape meminta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka dasar penelitian yang menjadi rujukan munculnya klaim penggunaan vape berdampak terhadap diabetes hingga 100% dan gangguan paru-paru sekitar 92%.

Permintaan tersebut disampaikan tiga asosiasi yang mewakili pelaku industri vape, yakni Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Perkumpulan Produsen Eliquid Indonesia (PPEI), dan Asosiasi Ritel Vape Indonesia (ARVINDO).

Ketua Umum APVI Budiyanto mengatakan, pelaku industri tidak menutup mata terhadap risiko kesehatan penggunaan produk vape. Namun, ia meminta hasil penelitian disampaikan secara utuh, termasuk konteks penelitian, metode, sampel, serta indikator kesehatan yang digunakan.

Baca Juga: Isu Kesehatan Tekan Omzet Ritel Vape hingga 30%

"Kami menghormati penelitian, mengakui risiko kesehatan, dan meminta agar informasi kepada masyarakat disampaikan secara lengkap serta batas kesimpulan ilmiahnya," kata Budiyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/10/2026).

Menurut Budiyanto, sebelumnya telah terdapat kajian mengenai rokok elektronik yang perlu ditempatkan sebagai bagian dari konteks pembahasan. Ia mencontohkan penelitian yang dipublikasikan pada 2025 terkait kadar toksikan yang dihirup dari rokok elektronik dibandingkan dengan rokok konvensional.

Karena itu, Budiyanto meminta BRIN menjelaskan apakah penelitian terbaru menggunakan objek sampel, metode, maupun indikator kesehatan yang berbeda dengan kajian sebelumnya.

"Kami ingin tahu parameter ujinya seperti apa, sampelnya apa, dan indikator metaboliknya seperti apa. Apakah istilah diabetes yang digunakan dalam pemberitaan benar-benar merujuk pada diagnosis penyakit diabetes atau hanya menunjukkan perubahan indikator metabolik tertentu," ujarnya.

Budiyanto menegaskan, apabila terdapat bukti ilmiah baru mengenai risiko penggunaan vape, pihaknya siap mempelajari dan mendukung tindak lanjut yang diperlukan.

Sementara itu, Ketua Umum PPEI Daniel Boy Purwanto mengatakan pelaku industri juga membuka diri terhadap temuan ilmiah mengenai risiko kesehatan vape.

Menurut Daniel, pelaku usaha bahkan siap melakukan evaluasi terhadap produk apabila terdapat bukti ilmiah yang kuat.

"Kita tidak menutup diri kalau misalnya hasilnya ternyata memang negatif, mungkin kita pun bakal berbenah juga untuk produk kita," kata Daniel.

Namun, Daniel menilai munculnya berbagai isu terkait vape turut menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Menurut dia, industri membutuhkan kepastian hukum agar dapat menjalankan kegiatan usaha dengan lebih jelas.

"Dengan adanya isu-isu seperti ini, kepastian hukum untuk kami teman-teman pengusaha jadi membingungkan," ujarnya.

Untuk itu, tiga asosiasi tersebut meminta ruang dialog dengan BRIN guna membahas hasil penelitian yang menjadi sorotan. Pelaku industri juga membuka kemungkinan membawa hasil pengujian yang dimiliki sebagai bahan pembanding.

Di sisi lain, Ketua Umum ARVINDO Fachmi K. Firmansyah mengatakan pemberitaan mengenai risiko kesehatan vape mulai berdampak terhadap pelaku usaha ritel.

Menurut Fachmi, sejumlah pelaku usaha yang tergabung dalam komunitasnya mengalami penurunan omzet dalam beberapa hari setelah pemberitaan mengenai klaim tersebut beredar.

"Berita yang baru beberapa hari ini saja, enam teman kami sudah langsung mengalami penurunan omzet 21-30 persen," kata Fachmi.

Ia mengatakan dampak tersebut tidak hanya dirasakan produsen, tetapi juga pelaku usaha di tingkat ritel. Karena itu, Fachmi meminta para pembuat kebijakan mempertimbangkan dampak setiap pernyataan terhadap keberlangsungan usaha pelaku UMKM.

"Kami ingin diajak berdialog, kami ingin sekali berdiskusi dengan pihak BRIN terkait hal ini," ujarnya.

Fachmi juga menyoroti industri vape, khususnya segmen open system, yang menurut dia banyak melibatkan pemain lokal dan bersifat padat karya.

"Industri kami, terutama industri open system, itu industri padat karya. Dari hulu sampai ke hilir semuanya pemain lokal," kata Fachmi.

Menurutnya, dialog dengan BRIN diperlukan agar pelaku industri dapat memahami dasar munculnya angka 100% terkait diabetes dan 92% terkait gangguan paru-paru.

"Kita perlu memvalidasi, kita perlu tahu hasilnya, parameter ujinya seperti apa, sampelnya, dan indikator metaboliknya seperti apa," kata Budiyanto.

Ia menambahkan, data dari industri nantinya dapat menjadi bahan pembanding dalam diskusi dengan BRIN, bukan semata-mata untuk membantah hasil penelitian.

"Kita tidak ingin membantah. Kita ingin berdialog dulu, berbicara dulu. Kita tidak ingin terjadi perdebatan yang menjadikan isu kesehatan sebagai pertentangan," ujarnya.

Baca Juga: Bapanas Siapkan Subsidi Angkut untuk Stabilkan Harga Daging Ayam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×