kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Investor Anyar Bakal Gairahkan Industri Keramik Indonesia


Jumat, 07 Mei 2010 / 09:02 WIB


Reporter: Herlina KD |

JAKARTA. Masuknya investor baru di sektor keramik akan bisa meningkatkan produktivitas industri keramik di Indonesia. Sebab, potensi industri keramik di Indonesia masih cukup besar.

"Pasar keramik masih sangat potensial," kata Direktur Jenderal Agro dan Kimia Kementerian Perindustrian Benny Wachjudi.

Ditambah lagi, selama ini, sebagian besar industri keramik masih mengandalkan pasar domestik sebagai pasar utamanya. "Sebanyak 80% produksi untuk memenuhi kebutuhan domestik, sisanya untuk ekspor," kata Benny.

Ketua Asosiasi Industri Keramik Indonesia (ASAKI) Ahmad Wijaya mengatakan tahun ini setidaknya ada dua investor baru yang bakal investasi di Indonesia. Dua investor itu adalah PT Matahari Prima Sukses yang berasal dan Nobel Ceramics yang berasal dari China.

Meski begitu, Benny menambahkan, konsumsi keramik di Indonesia masih sangat mungil. Ia mencontohkan, konsumsi ubin keramik di Indonesia hanya sebesar 1,12 meter persegi per kapita per tahun, bandingkan dengan Malaysia yang sudah mencapai 4 meter persegi per kapita per tahun.

Hingga tahun 2009, total permintaan keramik untuk pasar domestik sebesar 11,55 miliar, yang terdiri dari ubin sebesar Rp 8,81 miliar, alat makan (table ware) Rp 1,92 miliar dan keramik untuk sanitari sebesar Rp 820 juta.

Hingga kuartal I tahun 2010 penjualan industri keramik hanya sebesar Rp 4,2 triliun. Jika dibanding kuartal I 2009 yang sebesar Rp 2,8 triliun, penjualan keramik kuartal I tahun ini naik sekitar 50%.

Dari jumlah penjualan itu sekitar 90% nya dijual ke pasar domestik sedangkan sisanya sebanyak 10% untuk kebutuhan ekspor.Tahun ini, Wijaya menargetkan industri keramik bisa tumbuh sekitar 8% ketimbang tahun lalu.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×