Reporter: Vina Elvira | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indonesia semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pasar data center dengan pertumbuhan tercepat di Asia Tenggara. Hal ini didorong oleh percepatan digitalisasi, meningkatnya investasi dari hyperscaler, serta pipeline pengembangan yang kuat.
Berdasarkan riset Cushman & Wakefield, Indonesia saat ini memiliki kapasitas operasional sebesar 468 MW, dengan tambahan kapasitas mendatang sebesar 1.957 MW yang diproyeksikan akan mulai beroperasi hingga tahun 2030.
Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu pasar data center dengan pertumbuhan tercepat di kawasan Asia Pasifik.
Head of Data Centre, Research & Advisory, Asia Pacific, Cushman & Wakefield Pritesh Swamy mengatakan, dalam jangka panjang, potensi pertumbuhan tersebut juga didukung sekitar 4,5 GW kapasitas yang telah diamankan melalui land bank, sehingga memberikan fondasi yang kuat bagi ekspansi data center di masa mendatang.
“Pasar data center Indonesia tengah memasuki fase pertumbuhan baru, di mana konvergensi antara sektor properti, infrastruktur digital, dan investasi modal menciptakan peluang yang semakin besar,” sebut Pritesh dalam keterangannya, Selasa (28/7) lalu.
Baca Juga: Data Center Indonesia Tumbuh Pesat, AI dan Cloud Jadi Mesin Penggerak
Ia menjabarkan, pertumbuhan pasar data center di Indonesia terus didorong oleh meningkatnya adopsi layanan cloud, percepatan digitalisasi di berbagai sektor, pertumbuhan konsumsi data, kebutuhan akan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi berkepadatan tinggi (high-density computing). Serta ekspansi yang terus dilakukan oleh hyperscaler global dan perusahaan pengguna data center (enterprise occupiers).
Momentum pasar tersebut juga tercermin dari berbagai investasi dan komitmen pendanaan yang diumumkan sepanjang semester pertama 2026.
Sejumlah perusahaan, seperti Princeton Digital Group (PDG), Digital Edge, ST Telemedia Global Data Centres (STT GDC), DCI Indonesia, Racks Central, dan Firmus Technologies, mengumumkan pengembangan proyek baru, fasilitas pendanaan, maupun rencana ekspansi di Jabodetabek dan Batam.
Perkembangan ini mendorong permintaan yang berkelanjutan terhadap infrastruktur digital di dalam negeri sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pasar data center yang semakin penting di kawasan Asia Pasifik.
“Keberhasilan di tengah dinamika pasar ini akan semakin ditentukan oleh kemampuan dalam mengamankan lokasi yang tepat, ketersediaan pasokan listrik, konektivitas, serta strategi pengembangan yang berkelanjutan untuk memenuhi kebutuhan pengguna sekaligus mendukung tujuan pertumbuhan jangka panjang,” tambahnya.
Jabodetabek masih menjadi tujuan utama pengembangan fasilitas hyperscale dan investasi proyek data center, sementara Batam semakin berkembang sebagai lokasi strategis untuk infrastruktur AI dan komputasi berkinerja tinggi (high-performance computing).
Riset Cushman & Wakefield mencatat peluang pertumbuhan pasar data center ke depan akan semakin dipengaruhi oleh kebutuhan pengguna (occupiers), mulai dari skala dan kinerja, keamanan dan kepatuhan, efisiensi biaya, kemudahan pengelolaan dan pemantauan, keandalan sistem dan redundancy, hingga aspek keberlanjutan lingkungan.
"Meskipun Jabodetabek masih menjadi pusat utama permintaan data center di Indonesia, kawasan seperti Batam berada pada posisi yang strategis untuk memenuhi kebutuhan yang terus berkembang seiring dengan pesatnya ekspansi infrastruktur digital di Indonesia," sebut riset tersebut.
Baca Juga: Permintaan Infrastruktur Kecerdasan Buatan Naik, Persaingan Data Center Kian Ketat
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














