Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti fenomena kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah provinsi dalam beberapa pekan terakhir berpotensi menekan efisiensi dunia usaha serta mengganggu rantai pasok distribusi nasional secara luas.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Erwin Aksa menyatakan bahwa ketersediaan BBM merupakan komponen vital bagi keberlangsungan kegiatan ekonomi daerah.
"Kelangkaan BBM di sejumlah daerah tentu menjadi perhatian serius bagi dunia usaha. BBM merupakan salah satu komponen penting dalam kegiatan ekonomi, terutama untuk transportasi, logistik, distribusi barang, pertanian, perikanan, pariwisata dan kegiatan industri," ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga: DEN Evaluasi Gangguan BBM Berulang, Dorong Peningkatan Cadangan Operasional Pertamina
Erwin menuturkan, gejolak pasokan BBM yang terjadi di Bali, Manado, Riau, hingga Jawa Timur berdampak langsung terhadap operasional pelaku usaha kecil maupun besar.
Bagi para pelaku bisnis, lanjut dia, masalah utama tidak hanya terletak pada pengeluaran biaya operasional, melainkan munculnya risiko ketidakpastian ketersediaan pasokan di lapangan.
"Bagi dunia usaha, persoalannya bukan hanya kenaikan biaya, tetapi juga ketidakpastian ketersediaan BBM. Ketika kendaraan operasional harus mengantre berjam-jam, produktivitas menurun dan jadwal distribusi menjadi terganggu," jelasnya.
Erwin mengungkapkan, pihaknya masih menghitung dampak ekonomi di lapangan akibat fenomena tersebut. Selain itu, untuk memastikan seberapa luas industri yang telah terdampak, pihaknya juga masih mendata lebih lanjut.
Ia mencatat gangguan ini berpotensi memicu efek domino yang menghambat sektor logistik, angkutan pangan, hingga industri manufaktur secara keseluruhan.
"Kelangkaan BBM berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap perekonomian daerah. Pertama, sektor logistik dan distribusi barang menjadi salah satu yang paling rentan. Kendaraan pengangkut bahan pangan, hasil pertanian, bahan baku industri, dan barang kebutuhan pokok membutuhkan kepastian pasokan BBM agar distribusi berjalan sesuai jadwal," ungkapnya.
Meskipun nilai kerugian secara rinci masih dihitung, lanjut Erwin, akumulasi hilangnya waktu produktif armada distribusi dipastikan memberikan tekanan biaya yang tidak kecil.
"Untuk saat ini, kami belum dapat menyampaikan angka kerugian secara nasional yang dapat dipertanggungjawabkan, karena diperlukan data mengenai jumlah perusahaan terdampak, durasi kelangkaan, jenis BBM, serta besarnya gangguan operasional di masing-masing daerah," paparnya.
Lebih lanjut, Erwin menambahkan, pihaknya mendesak pemerintah dan Pertamina segera menormalisasi pasokan serta mengevaluasi sistem pemantauan persediaan BBM di seluruh daerah.
"Kadin menekankan bahwa kepastian pasokan energi merupakan bagian penting dari kepastian berusaha. Jangan sampai gangguan distribusi BBM yang seharusnya dapat diantisipasi justru menambah biaya logistik, menekan daya saing industri, dan akhirnya membebani daya beli masyarakat," pungkasnya.
Baca Juga: Uni-Charm Indonesia (UCID) Salurkan Bantuan Sanitasi untuk Penyintas Gempa Flores
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














